Film “Simanggale” Juara I FFEN 2015 di Biak

01 December 2015

Dewan Juri Festival Film Etnik Nusantara (FFEN) 2015 yang terdiri dari Abdullah Yuliarso, Akhlis Suryapati, Clara Shinta, Yubelinus Usior, dan Simon Siby memilih dan menetapkan film “Simanggale” (Tapanuli) sebagai juara pertama dalam FFEN 2015 yang diselenggarakan Pemda Biak-Numfor.

 

Sementara “Sepatu Baru” (Makassar) dan “Njuk Piye” (Yogyakarta) meraih  posisi urutan II dan III. Masing-masing pemenang mendapat hadiah sertifikat dan piala berbentuk “Tifa” serta uang sebesar Rp35 Juta (Juara I), Rp25 Juta (Juara II) dan Rp15 Juta (Juara III).

Ketua Dewan Juri, Abdullah Yuliarso di Gedung Faryos, Hanudnas, Biak-Numfor, Papua, Sabtu (28/11/2015)  menyebut,  “Penilaian kami merujuk pada keaslian cerita dari budaya tradisi Indonesia, kandungan nilai budaya lokal, dan terutama pada bahasa film dan cara bertutur yang khas dan komunikatif.”

Selain menentukan tiga pemenang dari 10 nominasi, FFEN 2015 juga memberi  Penghargaan Khusus dan hadiah Rp10 Juta kepada film “Suara Angganeta” karya Herri Ketaren Purba, bekerjasama dengan LPP Nur, Orchid Teater, Perempan Biak, dan Sora Pardis Films.

“Festival Film Etnik Nusantara perlu mendapat dukungan pemerintah daerah maupun pusat agar pelaksanaannya bisa lebih luas di seluruh Indonesia,” ujar Marcella Zalianthy, usai tampil membacakan pemenang pertama FFEN 2015.

Hadir dalam malam puncak FFEN 2015 Bupati Biak-Numfor, Thomas Alfa Edison Ondy dan pejabat Pemda Biak, artis Marcella Zalianthy, aktor Ronnie Dozer, pesinetron Yanti Yaseer, serta para seniman dan artis penyanyi dari Biak.

Sementara itu, Ketua Panitia FFEN 2015 yang juga Ketua Komisi A DPRD Biak-Numfor, Adolf Baransano mengatakan, pihaknya merancang FFEN bersama sejumlah komunitas perfilman di Biak dan Jakarta.

“Dari 1000an judul yang kami saring, hanya 67 judul yang benar-benar memiliki karakter etnik yang khas Indonesia. Dari 67 judul itu kemudian diseleksi menjadi 10, kemudian diakhiri dengan memberi penghargaan kepada tiga film pemenang,” kata Adolf Baransano.

Sementara itu dalam sambutannya, Bupati Biak-Numfor, Thomas Alfa Edison Ondy mengatakan, pihaknya sangat ingin mengembangkan perfilman sebagai medium pelestarian kebudayaan dan adat, serta pembangunan dan promosi daerah.

“Kegiatan ini merupakan upaya untuk mengedepankan potensi budaya dan keragaman budaya nusantara. Penyelenggaraan FFEN 2015 sekaligus menjadi media promosi daerah, dan mengangkat nama Biak Numfor di tingkat nasional,” kata Thomas Alfa Edison Ondy.

Pemda Biak juga telah merancang FFEN menjadi agenda rutin tahunan. “Kami siapkan APBD sebesar Rp900 juta untuk kegiatan perfilman di Biak. Selain itu, kami siap menggelar Festival Film Indonesia tahun 2017 nanti,” tegas Bupati Edison Ondy.

Biak Meraih Nominasi Khusus via "Suara Angganeta"

Film etnik Biak "Suara Angganeta" yang menyabet penghargaan nominasi khusus festival film etnik nusantara memuat jeritan hati perempuan Papua terhadap berbagai fakta sosial yang terjadi di masyarakat.

Ketua teater Orchid Papua Agustina Klorway Kbarek di Biak, Senin, mengakui, pemain film "Suara Angganeta" adalah kaum ibu-ibu Papua yang menyuarakan isi hati perempuan dalam berbagai kondisi sosial masyarakat seperti masalah peredaran minuman keras, pengrusakan lingkungan, kasus kekerasan dalam rumah tangga hingga aspek pendidikan anak.

"Kritik sosial yang diperankan ibu-ibu Papua di film merupakan sesuatu yang baru untuk menggugah hati para pemimpin daerah untuk tetap memperhatikan berbagai fakta sosial yang harus ditangani tuntas," ungkap Agustina Kbarek.

Ia mengakui, akting otodidak perempuan Papua dalam film "Suara Angganeta" sangat menyentuh nilai kemanusiaan.

Dia berharap, film etnik "Suara Angganeta" menjadi simbol perjuangan ibu-ibu Papua dalam menyuarakan kedamaian dan keadialan sosial yang terjadi di tanah Papua.

"Meski dengan keterbasan sarana dan prasarana namun teater Orchid Papua mampu menampilkan film etnik nusantara yang mengangkat persoalan sosial masyarakat kampung," ungkapnya.

Sementara itu, Suradara Film "Suara Angganetha" Herry mengakui, pemain film "Suara Angganeta" merupakan kelompok ibu-ibu Papua yang bermain secara ototidak dan sederhana namun sangat menyentuh hati nurani bagi orang yang menonton fllm lokal Biak.

"Suara jeritan ibu-ibu Papua melalui film Suara Angganeta perlu ditonton karena sangat orisinal, ototidak dan apa adanya," katanya.

Film etnik penyabet nominasi khusus festival film etnik nusantara 2015 ini diputar pada acara syukuran dan seminar peran media terhadap perjuangan perempuan Papua. XPOSEINDONESIA/DSP
More Pictures





 

 


Last modified on Tuesday, 01 December 2015 19:51
Login to post comments