Kadri Mohammad kembali mengeksplorasi musik yang berakar pada budaya Minangkabau melalui single terbarunya, “Mambangkik Batang Tarandam”. Karya Jimmo ini dinyanyikan Kadri bersama penyanyi muda Minangkabau, Nando Satoko, dengan aransemen alternative yang memadukan instrumen tradisional Minangkabau dan fondasi musik modern.
Kolaborasi ini tidak sekadar membawa bahasa Minangkabau ke dalam musik kontemporer. Lagu tersebut juga mengangkat cerita tentang cinta yang terhalang adat, hubungan yang kandas, dan keberanian untuk kembali melanjutkan hidup.
Dirilis di platform musik digital pada 1 Oktober 2026, “Mambangkik Batang Tarandam” menjadi kelanjutan dari “Sabana Malu Sabana Rindu”, yang sebelumnya membawa kisah cinta jarak jauh dalam balutan city pop. Kali ini, Kadri memilih pendekatan alternative dengan karakter musikal yang lebih dekat pada identitas budaya Minangkabau.
Salah satu daya tarik lagu ini terletak pada aransemen yang mempertemukan warna musik tradisional dan modern. Saluang, akordeon, dan bansi tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi turut membangun identitas musikal yang membedakan karya ini dari single sebelumnya.
Muhammad Rafif memainkan saluang, Windy Setiadi mengisi akordeon, sementara Nando Satoko turut memainkan bansi. Aransemen tersebut dilengkapi permainan gitar Noldy Benjamin, bass Soebroto Harry, dan drum Iyoen Hayunaji. Popo Fauza dari The KadriJimmo bertindak sebagai produser musik, sedangkan Kadri menjadi produser eksekutif.
Perpaduan instrumen tersebut memberi ruang bagi karakter Minangkabau untuk tetap menonjol di tengah pendekatan alternative. Saluang dan bansi membawa warna bunyi yang lekat dengan tradisi, sementara gitar, bass, drum, dan akordeon memperluas tekstur musikal lagu.
Kekuatan “Mambangkik Batang Tarandam” juga terletak pada hubungan antara melodi, aransemen, dan cerita yang disampaikan. Tema cinta yang berhadapan dengan adat membutuhkan penyampaian emosional, tetapi tidak harus selalu berakhir dalam suasana muram.
Melalui pilihan warna musik yang berbeda dari single sebelumnya, Kadri menghadirkan cerita tersebut dalam konteks yang lebih kontemporer. Melodi menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara pesan emosional lagu dan karakter musik yang dibangun melalui perpaduan instrumen tradisional dengan perangkat musik modern.
Bagi Kadri, “Mambangkik Batang Tarandam” berangkat dari pertanyaan tentang nasib sebuah hubungan ketika cinta tidak memperoleh restu adat.
“Ketika cinta kandas karena adat, apakah kisahnya harus benar-benar berakhir? Pertanyaan itulah yang menemukan gema baru dalam Mambangkik Batang Tarandam,” kata Kadri.
Judul lagu ini diambil dari ungkapan Minangkabau yang secara filosofis menggambarkan sesuatu yang pernah terbenam lalu kembali diangkat. Makna tersebut menjadi pijakan untuk membangun cerita tentang sesuatu yang lama terpendam dan kembali muncul ke permukaan.
Meski mengangkat persoalan serius, Kadri tidak ingin kisah cinta yang kandas hanya dibaca sebagai cerita tentang kesedihan. Ia justru menyisipkan pandangan yang lebih ringan tentang bagaimana seseorang menghadapi hubungan yang tidak dapat dipertahankan.
“Orang Minang pantang menyerah. Cinta itu adalah komitmen saling setia. Namun jika putus, janganlah terpuruk, cari lagi yang lebih lucu,” ujar Kadri sambil tersenyum.
Sudut pandang itu memperlihatkan cara Kadri mengolah tema personal menjadi karya yang tetap memiliki kedekatan dengan pendengar. Persoalan adat, hubungan, dan pilihan hidup dihadirkan tanpa menghilangkan ruang bagi optimisme.
Kadri dan Eksplorasi Musik Minangkabau
Sebagai musisi yang telah menjalani perjalanan panjang sejak era 1980-an, Kadri terus membuka ruang bagi eksplorasi musikal. Ia pernah terlibat dalam sejumlah proyek, termasuk Makara dan The KadriJimmo, sebelum melanjutkan perjalanan sebagai solois. Dalam karya-karya solonya, pertemuan antara pengalaman personal, musik, dan identitas budaya menjadi salah satu wilayah yang terus ia jelajahi.
Dalam “Mambangkik Batang Tarandam”, Kadri memilih Nando Satoko sebagai rekan kolaborasi karena melihat kesamaan visi untuk memperkenalkan kekayaan musik Minangkabau kepada pendengar yang lebih luas.
Nando berasal dari Padang dan dikenal melalui kiprahnya membawakan lagu-lagu bernuansa Minang, termasuk “Marantau”. Ia juga memiliki cita-cita untuk memopulerkan lagu daerah Minangkabau dan daerah lain di Sumatera.
Bagi Nando, persoalan adat yang diangkat dalam lagu ini masih relevan meskipun cara pandang masyarakat terus berubah. Pilihan pasangan dan pernikahan kini semakin terbuka, tetapi harapan keluarga untuk meneruskan warisan budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.
“Sekarang sudah jarang saya melihat orang Minang yang terhambat menikah dengan orang non-Minang. Meski begitu, masih ada orang-orang tua yang berharap warisan budaya dan adat tetap bisa diteruskan,” kata Nando.
Pertemuan pandangan tersebut membuat “Mambangkik Batang Tarandam” tidak hanya berbicara tentang hubungan dua orang, tetapi juga tentang bagaimana tradisi berhadapan dengan perubahan zaman.
Video Musik “Mambangkik Batang Tarandam” Mengambil Lokasi di Teluk Bayur
Karakter lagu ini juga diterjemahkan melalui video musik yang mengambil lokasi di Teluk Bayur, Padang. Disutradarai Dvh. Bale dan diproduksi HEAREYES, video musik tersebut menghadirkan lanskap yang memiliki keterkaitan dengan sejarah serta budaya Sumatera Barat.
Bale tertarik menggunakan Teluk Bayur karena lokasi tersebut mengingatkannya pada novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka. Keterkaitan ini bukan berarti lagu Kadri merupakan adaptasi novel tersebut, melainkan memiliki persinggungan tema mengenai cinta, jarak, adat, dan pilihan hidup.
“Saya senang ketika tahu lokasi syutingnya di Teluk Bayur. Lokasi ini mengingatkan saya pada Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Itu yang kemudian menjadi tantangan buat saya untuk membuat video musik ini dengan kualitas yang baik, bukan sekadar mengambil gambar di lokasi yang indah,” ujar Bale.
Saat proses pengambilan gambar berlangsung, hujan badai turun pada tengah malam di luar rencana produksi. Kondisi tersebut justru menambah atmosfer dramatis yang sejalan dengan cerita lagu, memperkuat nuansa kehilangan dan pergulatan emosi yang menjadi bagian dari narasinya.
Melalui “Mambangkik Batang Tarandam”, Kadri kembali menunjukkan ketertarikannya pada pertemuan musik kontemporer dan akar budaya. Karya Jimmo ini memperoleh warna baru melalui aransemen alternative, keterlibatan instrumen tradisional Minangkabau, serta kolaborasi Kadri dengan Nando Satoko.
Single yang didistribusikan melalui The Orchard, bagian dari Sony Music Entertainment, tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kadri dalam membawa cerita dan identitas Minangkabau ke dalam lanskap musik Indonesia masa kini. XPOSEINDONESIA/IHSAN


