Dennis Junio, Remembering The Nice Younger Brother…

Setelah menyelesaikan liburan musim panasnya, dimana ia sempat jalan-jalan bersama sang ibunda ke beberapa negara Eropa, pada bulan Agustus 2025. Lalu ia mengikuti masterclass di Italia, dan klaar itu iapun kembali ke tanah air pada 18 September 2025. Hari itu adalah tepat Amory, putranya berulang tahun yang kedua. 

Sekembalinya ia ke tanah air, iapun pergi ke Blai untuk mengikuti event jazz di sana pada 2,3,4 dan 6 Oktober. Direncanakan bahwa pada 7 Oktober, ia akan kembali ke Jakarta menemui ibundanya. 

Namun, pada tanggal 6 Oktober  jam 04.00  pagi waktu Bali, tiba-tiba ia collapse dimana trombosit  sangat rendah, leukosit sangat tinggi. Diagnosenya adalah suspect  Leukimia akut,.akibatnya pembuluh darah pecah,  Iapun coma  dan keesokan harinya tgl 7 October 2025 meninggal dunia.

Ia berpulang tepatnya pada jam 06.00 WIT, di Denpasar. Kemudian jenazahnya dibawa ke Jakarta, lalu iapun dimakamkan  di Cikutra Bandung pada tgl 8 Oktober 2025 . Jadi kepergiannya sangat mendadak, dan tentu mengejutkan semua orang. Terutama sang ibunda terkasih. Dan kronologi kejadian di atas, diceritakan oleh sang ibunda.

Dennis Junio Gani, begitu nama lengkapnya. Ia saxophonist muda, dikenal sebagai peniup tenor saxophone berbakat terdepan. Orangnya ramah, supel, mudah bergaul. Iapun sopan dan lumayan serius dalam aktifitas bermusiknya. 

Menurut sang ibunda, Diana Boes, Dennis  dari kecil sangat  dekat  dan terbuka dengan dirinya. Tidak ada  satupun yang dirahasiakan Terlihat dan terasa olehnya bahwa, Ibu buat Dennis adalah segala-galanya. Ya sebagai orang tua,  sebagai teman, juga sebagai guru tempat  dia belajar tentang kehidupan. 

Tanggal 6 Septrember 2025  dari Belanda Dennis sempat menelponnya  Ibunya ada di Jakarta. Saat itu,, dia mengatakan bahwa dia  tidak bisa dan tidak akan sanggup  hidup tanpa Mami. Lalu, lanjut ibunya, Dennis bilang dia tidak mau Mami meninggal duluan. Sang ibu berkata, ini mungkin semacam firasat?  

Awalnya, saya pikir Dennis hanyalah bercanda saja. “Dia itu manja banget sama saya, jadi I saya mengira bisa saja ia mengucapkan itu karena kekangenannya saja”. Perlu diketahui, Dennis adalah putra tunggal pasangan Dra. Diana Boes, MM (ibu) dan Isa Gani (ayahnya, yang telah meninggal dunia pada 13 Agustus 2013).

Dennis adalah kelahiran 23 Juni 1993, di Jakarta. Dan ia menikah dengan Gadis V. Sibbald, pada 23 April 2022. Pasangan tersebut dikaruniai anak, Francis Armoryndra Sibbald Gani, yang lahir pada 18 September 2023 di kota Groningen, Belanda.

Adapun Pendidikan musik terakhirnya adalah di Prince Clause Conservatorium (Prince Cluase Conservatoire), di kota Groningen, di Belanda. Di konservatori internasional itu, Dennis menamatkan program bachelor selama 3 tahun studi. Satu hal yang perlu diketahui, Dennis acapkali mengikuti pendidikan musik. terutama serangkaian master-class, untuk saxophone.

Tercatat, Dennis pernah berguru dengan beberapa musisi senior. Seperti antara lain, mendiang Benny Likumahuwa juga dengan Eugene. Selain itu mengikuti Pendidikan masterclass dengan Indra Lesmana. Iapun pernah sekian waktu belajar violin. Selain itu juga vokal, dengan masuk di beberapa sekolah musik. Belajar juga dengan Bertha dan Happy Pretty. Sebelumnya, juga piano.

Belajar terus dengan penuh semangat, dan belajar dengan aktifnya. Tapi selain itu, hal yang tak kalah pentingnya, Dennis rajin betul perform di berbagai acara. Baik itu konser maupun show dimanapun. Ia bahkan juga telah membentuk grup band sendiri, yang tentunya lead by himself. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Eropa, terutama di Belanda. Ia juga membentuk beberapa grup band di Groningen, saat masa studinya, selain sering mendukung grup lain diajak teman-teman kuliahnya di sana.

Tak pelak, Dennis memang bertumbuh kembang dengan sangat baik. Ia muncul menjadi talenta musisi muda, sejak sekitar sebelum 2010-an. Antara lain ia pernah diawal perjalanan bermusiknya, mendukung dan bermain bersama Totong Wicaksono. Waktu itu, Totong mengajaknya main dengan grup Canzo, solo projectnya.

Totong Wicaksono sendiri adalah salah satu founder grup fusion 80-an, Canizzaro. Setelah Canzo, Barry Likumahuwa mengajaknya. Yang kemudian Dennis pun dididik langsung oleh ayah dari Barry Likumahuwa, yaitu Benny Likumahuwa. Sekian waktu, Dennis learning by doin’ saat itu. Dan iapun makin bergaul di kalangan musisi jazz Indonesia.

Banyak musisi, seperti Barry Likumahuwa misalnya menyebut Dennis adalah musisi muda yang sangat supel dan rajin. Ia selalu antusias bila diajak main, di acara apapun. Iapun cepat menangkap konsep musik yang ditentukan para musisi. Saat belajarpun, Dennis terbilang relative cepat.

Indra Lesmana, bersama istri Hon Lesmana, juga tak akan pernah lupa dengan almarhum Dennis. Anak yang periang, ramah dan memang manja. Sekian waktu, Dennis bila berkunjung ke Bali pasti lebih sering memilih menginap di kediaman mereka.

Sampai pada akhir hayatnya, Dennis sangat dekat dengan keluarga Indra Lesmana. Dan Indra dan Hon memang yang mengurusi segala hal terkait kepergian Dennis di Bali. Dari penanganan intensif di rumah sakit, saat Dennis coma. Hingga Dennis wafat. Juga membantu sepenuhnya pihak keluarga Dennis, mengurusi kepulangan jenazah Dennis ke ibukota.

Dennis memang ramah dan pandai bergaul. Teman-temannya banyak betul. Terbukti saat pemakamannya di TPU Cikutra Bandung, teman-temannya beramai-ramai datang, ikut mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Well Dennis. Saya pribadi tak pernah lupa dengan sosok muisisi mudar amah betul, sopan. Dan juga, ini salah satu kelebihannya nih, ganteng dan rapi. Ia tak pernah lupa dengan saya, yang awalnya mengenal Dennis setelah diperkenalkan oleh Totong Wicaksono. Ya saat di Canzo. Dan setelah itu, saban ketemu, pastinya Dennis menyapa saya dengan hormat, dengan menegur dan menyapa terlebih dahulu.

Dennis pasti sudah tenang di atas sana. Kirimkan doa baik, al-fathihah untuknya. Sang ibunda tetap merasa kehilangan terus, bisa dimaklumi karena begitu dekatnya Dennis dengan sang ibu sepanjang hidupnya. Tapi adalah banyak sekali orang, yang juga merasa kehilangan dengan kepergian seorang Dennis Junio. One of the most talented (tenor) saxophonist in Indonesia.

Dennis, how are you today there? We all miss you…. XPOSEINDONESIA/dM

spot_img

Must Read

Related Articles