Sudut Ruang Jazz, Jazz yang Akrab dan Asyik deh!

Jazz Fans di New York, pasti familiar dengan Bill’s Place. Di daerah Harlem. Sebuah jazz club yang disebut authentic New York jazz, dimana dianggap New York itu bak jazz capital city of the world. Suasananya jazz dan akrab…

Geser ke Minton’s Playhouse, yang dibangun oleh Henry Minton, saxophonist, pada tahun 1938. Old style jazz clubs, yang suasananya lebih warm and jazzy.  Yang pernah perform di sini, para legenda asli macam Dizzy Gillespie, Charlie Parker sampai Thelonious Monk segala lho.

Yang agak besar ada Birdland, yang pernah dijuluki oleh Charlie Parker sebagai, “the jazz corner of the world”. Di bar yang dibuka pertama kali pada 1946. Tetapi lantas sempat sekitar 10-an tahun tutup. Dan buka kembali, di tempat yang baru, pada 1986. Tempat yang lumayan populer ini diberi tagline khusus olehNew York Times sebagai, “close to perfection for serious fans and musicians.”

Masih banyak tempat lain. Itu kan baru di New York, belum kota-kota lain, apalagi New Orleans. Nah, lantas bagaimana dengan Jakarta. Macam bagaimana sih, kehidupan skena jazznya? Tentu beda lagi venuenya.

To the seriously jazz fans, a fanatic one in Jakarta, pasti tahu bahwa di Jakarta pernah ada jazz-club internasional seperti Blue Note. Bersanding dengan sebuah jazz club lokal yang lumayan banyak fans setiap malamnya, JAMZ. Masa seputar tahun 90-an itu lumayan jazzy sebenarnya.

Apalagi pada masa sebelumnya ada klab jazz spesial khusus di Minggu siang, misalnya di Music Room, Hotel Borobudur dan New York Café, di areal Taman Ria Remaja Senayan. Selain ramai dengan para jazz fans, para musisi dan penyanyi jazz papan atas juga kerapkali mengisi acara secara rutin di situ.

Kalau mau menengok lebih jauh ke belakang, ada jazz club yang lumayan populer pada masanya, sebut saja di Guwa Rama, di Hotel Indonesia selain di lobby-nya. Atau di hotel lain, Hotel Des Indes (sekarang menjadi areal Duta Merlin).

Ada juga jazz, secara regular, di beberapa hotel lain di era 1980-1990an. Misal di Hotel Jakarta Hilton (sekarang Hotel Sultan). Atau di Sabang Metropolitan. Atau di The Jakarta Mandarin Hotel (sekarang Mandarin Oriental).

Masih mencoba menapaki perjalanan skena jazz di sini, terutama di ibukota Jakarta. Beberapa klub jazz dibangun memang di era ujung 1970-an sampai sekitar awal 1990-an. Antara lain ada Green Pub, Amigos Bar, walau tidak terlalu “jazz-jazz banget” sih ya. Ada Swingin’ Pub, Federal Pub, Ponderosa sampai Palm Beach misalnya. Ada juga yang bertahan terus puluhan tahun, bahkan sampai saat ini, Jaya Pub di Kawasan Jalan MH. Thamrin.

Jaya Pub dulu ada gitaris jazz legendaris, mendiang  Victor Rompas dan mendiang saksofonis Pomo tampil secara tetap di situ. Tapi tidak terlalu jazz memang, karena bercampur dengan lagu-lagu oldies 1950-1960 sampai 1970an. Macam lagu-lagu evergreen lah. Jadi ada juga lagu-lagu rock n roll, rockabilly, ballad-rock, pop.

Tapi memang mendiang Victor Rompas sendiri, dikenal sebagai salah satu “jazz-master” on guitar di sini. Namanya sejajar dengan para legenda lain, Ireng dan Kiboud Maulana misalnya, Jack Lesmana, Eddy Karamoy. Termasuk juga the living-legend yang sampai saat ini masih eksis dan terus “on-stage”, Oele Pattiselanno.

Selain café atau clubs, jazz di masa itu diadakan juga dalam bentuk semacam jazz-club. Semisal Sunday Jazz Club, seperti ditulis di atas. Ada juga Jazz on Sunday di Hilton Executive Club, satu areal dengan The Jakarta Hilton. Ataupun ada Sunday Jazz oleh Mahavishnu Production bertempat di Golden Ballroom, Jakarta Hilton.

Ok, kita loncat langsung ke hari ini. Ada sebuah tempat kumpul-kumpul secara nge-jazz yang “murah meriah akrab mesra”. Jammin’ yang terbuka, macam-macam jazz. Belum terlalu lama sih. Sudut Ruang Jazz, begitu namanya. Baru “diresmikan” menjadi menu seminggu sekali, saban Selasa malam, pada beberapa bulan silam.

Adalah owner dari Kedai Disto, di jalan Cipete Raya, yang bersedia dan buka pintu lebar-lebar untuk restonya menjadi venue. Ga heranlah, Disto yang pemilik itu juga musisi, pemain perkusi. Dan Kedai Disto sendiri sebenarnya telah dibukanya sejak tahun 2000-an.

Selama ini, acapkali ada jammin’ jazz di situ, tapi jadwalnya tidak tetap. Artinya, belumlah menjadi jadwal regular. Namun di bulan Oktober jelang November 2025 silam, beberapa musisi dan penyanyi sepakat menyiapkan menu acara regular.

Mereka selengkapnya adalah kwartet terdiri dari Billy Arifudin (keys), Ricky Firmansyah (bass), Alnair Oesman (drums) dan vokalis, Mercy Dumais. Tentu saja juragan pemilik tempat, juga ikut mendukung, Disto.

Persekutuan secara jazz itu dilakukan atas dasar pertemanan mereka, dimana mereka seringkali bertemu. Tentunya di acara-acara jazz di ibukota. Karena merasa sevisi dan misi dan semua bersedia untuk berjalan bareng ya makdarit terjadilah kongkow-kongkow jazz di saban Selasa Malam tersebut.

Nah “arena” Sudut Ruang Jazz yang beneran terletak di salah satu sudut jalan Cipete Raya, ikut rutin membunyikan jazz bersama beberapa tempat lain. Yang notabene sebenarnya lebih “adem”, bisalah disebut lebih prestigious. Ada kafe jazz bernama Artoz di Kawasan SCBD. Ataupun Deheng House di Kemang. Lainnya ada Soundtrip, di Kawasan Grand Wijaya. Lalu Club 1920 di Hotel Grand Kemang, untuk menyebut sebagian kecil di antaranya.

Sementara itu kalau venue jazz , ada bentuk sajian jazz yang unik di era akhir 90-an sampai awal 2000an. Yaitu jazz dibunyikan dari areal berbentuk “kafe tenda”. Mulai dari Kafe Tenda Semanggi misalnya.

Bersambung mulai di penghujung 1999 dengan TamanKafe di Kawasan Bintaro Jaya sektor 7. TamanKafe inilah yang lantas memiliki menu jazz regular tetap, seminggu sekali. Jazz Jazz Jazz namanya. Malah pernah digelar beberapa kali event reramean main jazz, berbentuk festival kecil di situ. Sayangnya, tidak lagi berlanjut saat ini, hanya beredar sekitar 3 tahun-an saja.

Dari Bintaro ke Jajan Jazz di perumahan lainnya, BSD. Lantas ada Margo Jazz di Margocity, Depok. Sempat juga menulari beberapa kawasan perumahan lain, yang menggelar jazz sebagai menu tetap seminggu sekali. Perlu dicatat juga ada kumpul-kumpul jazz lain dengan “bendera” Cinere Jazz Society, antara lain bertempat di Kampung 99Pepohonan, Limo, Depok.

Demikianlah aktifitas dari skena jazz dewasa ini. Ada kehidupannya, well asyik juga. Walau mungkin masih dalam skala kecil. Tetapi yang menarik, adanya antusiasme kalangan penggemar jazz, juga dari musisi-musisi belia yang mulai menyukai jazz. Acara-acara yang membuka kesempatan jam-session, seperti Sudut Ruang Jazz, lalu menjadi tempat tongkrongan “wajib”.

Dari situlah, para musisi belia, generasi muda “newcomer” bermunculan. Mereka menjadikan acara-acara itu sebagai arena uji kemampuan, sekaligus keberanian untuk tampil di depan publik. Iya dong, latihan sekian waktu lamanya, masak sih ga dicoba untuk tampil di depan umum. Apalagi sekaligus juga, bertemu, berkenalan dan bersiltaruhmi dengan para jazzer lain. Termasuk bertemu dengan para penikmat jazz.

Well, semoga kantong-kantong jazz kemudian bermunculan juga dimana-mana. Menjadi tempat alternatif hang-out yang menyenangkan dan menyehatkan. Menyehatkan kehidupan jazz di sini juga! Iya kan…

So, kita bertemu di Sudut Ruang Jazz, atau pilih mau bertemu dimana kita? So pasti, ketemuan sambil nikmatin jazz asyik dong….Ya ketemu di Jakartalah, masak di New York atau New Orleans…

Salam Jazz as Always, bro en sis. XPOSEINDONESIA/dM

Must Read

Related Articles