Nganggung Dulang : Tradisi Makan Bersama dari Babel

04 August 2017

Makan bersama sudah ada dalam tradisi masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu. Tradisi  yang secara turun menurun tetap dipelihara ini  terlihat dalam beragam suku. Lihat saja  ada Makan Bajamba ala Keluarga Minang, Makan Patita gaya keluarga Maluku, Megibung jadi tradisi  makan bersama dari keluarga Bali, lantas ada pula Baseprah makan bersama ala keluarga Kutai, Babancakan menjadi gaya  makan bersama ala keluarga Banten, sementara di kepulauan Bangka Belitung ada tradisi  makan bersama yang dinamakan Nganggung Dulang.

Nganggung dulang  adalah  membawa dulang  (nampan terbuat dari kuningan berbentuk bulat) yang biasanya berisi nasi, lauk-pauk, buah-buahan, dan juga aneka kue ke sebuah acara. “Satu pintu satu dulang. Setiap satu pintu (rumah warga atau satu keluarga) menyediakan makanan walaupun nggak makan atau nggak kenal misalnya untuk kawinan, makanannya akan mengalir. Jadi jangan sampai tamu tak kebagian makanan," ujar Bupati Bangka Selatan, Justiar Noer.

Tradisi Nganggung Dulang merupakan wujud semangat gotong-royong antarwarga. Tradisi ini bertujuan mempererat tali silaturahmi sesama warga, supaya tercipta kerukunan dan kedamaian. Tradisi ini biasanya dilaksanakan untuk memperingati hari-hari besar seperti lebaran, pernikahan, atau penyambutan tamu kehormatan.

Tradisi Nganggung Dulang terlihat diselenggarakan di tengah acara Toboali City on Fire Season 2. Seusai Toboali Fashion Carnaval 2017, Nganggung Dulang  digelar di Rumah Dinas Bupati Bangka Selatan di Toboali. Ratusan masyarakat datang dari berbagai daerah, tua, muda, laki-laki dan perempuan. Mereka duduk bersama di lantai sambil menyantap makanan-makanan yang tersaji dalam dulang.

“Ini budaya yang turun menurun dari nenek moyang kita. Makan dulang bersama ini untuk saling mendekatkan batin satu sama lainya sambil makan. Kita bisa ngobrol ringan bahkan topik pembicaraan bisa sampai pada bagaimana menyelenggarakan pemerintahan di kepulauan Bangka Belitung,” ungkap wakil Gubernur Abdul Fatah kepada sejumlah wartawan dari Jakarta  yang sedang menjalani Famtrip Explore Babel 2017.

Hari itu terdapat 1150 dulang (nampan) berisi makanan yang dibawa masyarakat. “Jumlah  dulang lebih banyak ketimbang tahun lalu yang  hanya 1000. Dan isi dulang  bukanlah menu yang mewah. Menu itu diolah dari hasil tumbuhan yang ada di bumi  Bangka Belitung!” ujar  Fatah.

Untuk sayur  misalnya ada jantung  pisang, kemudian daun  singkong  yang dimasak dengan daun kenikir. “Dan harus ada ikan yang diolah dalam beragam bumbu dan menu. Ada ikan yang diolah menjadi sate. Karena kepulauan Bangka Belitung merupakan negeri penghasilan laut. Dan yang pasti dalam mengolah makanan, orang Bangka Belitung tidak kalah dengan propinsi lain!”  ungkap Abdul Fatah. XPOSEINDONESIA-NS Foto : Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Monday, 07 August 2017 09:57
Login to post comments