Oktober Bakal Meraih dengan Festival Danau Sentarum 2018

14 August 2018

Festival Danau Sentarum (FDS) digelar kembali pada 25-28 Oktober 2018 mendatang. Festival budaya yang mengangkat tema ‘Memacu Ekowisata Lintas Batas di Jantung Borneo’ ini dirancang dilaksanakan di empat tempat berbeda, yaitu Putussibau (sebagai kota Kabupaten Kapuas Hulu), Lanjak (sebagai kecamatan yang berada dalam Kawasan Danau Sentarum, sebagai pusat kegiatan), Badau (sebagai kota di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia), serta Sriaman (sebagai kota starting point kegiatan bersepada di jantung Borneo).

 

Sebelumnya pihak penyelenggara memfokuskan acara ke Sentarum Ethnic Music Festival dimana terdapat pagelaran seni dan tradisi masyarakat, mulai dari seni tari, musik, dan kesenian. Di samping itu kegiatan susur danau  juga dianggap  akan menjadi acara favorit. Selain itu, ada pula Parade Perahu Tradisional dimana wisatawan yang datang berkesempatan menyusuri Danau Sentarum menggunakan perahu hias khas masyarakat Dayak yaitu Parau Tambe.

Dalam jumpa pers FDS 2018 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Senin siang  (13/08),  Bupati Kapuas Hulu, A.M. Nasir mengatakan penyelenggaraan FDS 2018 merupakan salah satu upaya untuk memperkenalkan daya tarik pariwisata Kapuas Hulu dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kapuas Hulu.

Terlebih berdasarkan data kunjungan wisatawan cukup memenuhi target. Tahun lalu saja dari target 5ribu wisatawan Nusantara melebihi hingga 7 ribu wisatawan. Sedangkan untuk target 3 ribu wisatawan mancanegara terpenuhi kurang lebih 2.700 wisatawan. Diharapkan tahun ini ada peningkatan kunjungan dan melampaui target.

“Festival ini sebagai upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kapuas Hulu melalui beberapa pintu masuk (entry point), baik Pontianak maupun Pintu Lintas Batas Negara (PLBN) yang ada di wilayah Kapuas Hulu. Diharapkan festival ini dapat meningkatkan rasa bangga masyarakat akan alam dan budaya yang mereka miliki, serta menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat,” kata A.M. Nasir.

Penyelenggaraan FDS selama empat kali penyelenggaraan ini  memang  terindikasi membuat pemicu masuknya wisatawan mancanegara pelintas batas (cross border) dari Malaysia dan Brunei Darussalam melalui Pintu Lintas Batas Negara (PLBN) Badau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar) yang hanya satu jam perjalanan darat menuju Danau Sentarum.

“FDS 2018 menjadi salah satu event untuk memicu masuknya wisman cross border melalui PLBN Badau. Untuk menarik wisman cross border Kemenpar menggelar festival FDS dan Festival Perbatasan,” kata Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural Esthy Reko Astuti.
 
Esthy Reko Astuti mengatakan FDS 2018 yang masuk dalam daftar 100 Wonderful Events Indonesia 2018 menjadi event unggulan untuk wisata minat khusus (special interest tourism)  bagi Kabupaten Kapuas Hulu yang memiliki Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) keduanya menjadi destinasi ekowisata andalan Kalbar. 
 
A.M. Nasir  menyebutkan Kabupaten Kapuas Hulu memiliki 3,1 juta ha hutan sebanyak 51,56% di antaranya dijadikan sebagai kawasan konservasi yaitu TNDS seluas 800 ribu ha, TNBK 132 ribu ha, dan hutan lindung lainnya.

“Event FDS 2018 kami jadikan sebagai sarana melestarikan budaya dan alam yang selaras dengan status Kapuas Hulu sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) Heart of Borneo (HoB), Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sebagai Kabupaten Konservasi, dan Kawasan Perbatasan Negara (KPN) yang berbatasan langsung dengan Sarawak- Malaysia,” kata A.M. Nasir.

A.M. Nasir menjelaskan, pengembangan pariwisata di Kapuas Hulu sudah lama menjadi prioritas karena dengan memanfaatkan kawasan konservasi sebagai ekowisata menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat dan daerah dengan tetap menjaga keseimbangan ekologi.

“Kita sadar pengembangan kepariwisataan bukan hal yang mudah, butuh waktu dan kerjasama para pihak. Oleh karena itu, kami terus mendorong dan memacu kerjasama dengan para pihak baik itu dalam lingkup nasional seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian LHK melalui Balai Besar TNBKDS, dan Kementerian terkait lainnya, serta para NGO yang bekerja di Kapuas Hulu yang memiliki konsen terhadap pengembangan wisata, khususnya ekowisata,” kata A.M. Nasir. XPOSEINDONESIA - Foto Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata


More Pictures

Login to post comments