Fransisca Callista : Pasar Papringan Temanggung Contoh Revitalisasi Desa

25 May 2018
Fransiscka   Callista dari Komunitas Mata Air Fransiscka Callista dari Komunitas Mata Air

Sesungguhnya, desa adalah tempat tinggal yang  keren. Selain anti  macet dan masih hijau , ia pun masih full oksigen.  Namun mengapa desa ditinggal  pergi para kaum muda? Mengapa orang muda lebih suka ke kota? Tentu jawabanya mudah.  Karena kemilau kota yang menjanjikan  kehidupan lebih cemerlang dan gilang gemilang.

Fransiscka   Callista dari Komunitas Mata Air,  sebuah Yayasan yang bergerak di bidang revitalisasi desa menyebut, memang perlu upaya ekstra kreatif untuk  membuat  orang muda tidak  selalu berkeinginan pindah  ke kota.  Salah satunya dengan revitalisasi desa. Apa itu?

“Revitalisasi desa adalah upaya untuk menyehatkan  kembali desa-desa yang ada dengan melihat  dan mengembangkan potensi-potensi yang sudah mereka miliki. Salah satunya  seperti yang kami lakukan di Pasar Papringan Temanggung!” kata Fransiska Callista, Project Leader Pasar Papringan Temanggung, di tengah acara Silaturahmi dan buka puasa Deputi Bidang Industri dan Kelembagaan Kementrian Pariwisata dengan Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Bunga Rampai Restaurant, Cik Ditiro Jakarta (23/5/2018).

Papringan terletak Desa Ngadiprono, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Meski di tengah pelosok desa, pasar itu  kini diburu wisatawan
Karena menjadi destinasi wisata desa yang unik.

“Letak pasar ada di lokasi bekas tempat pembuangan sampah yang sudah diubah fungsinya. Suasananya teduh karena di kelilingi rimbunan pohon bambu dan yang dijual di sana hasil kreativitas penduduk yang terhubung pula dnegan bambu!” ujar    Fransika

Papringan berasal dari kata "pring" yang berarti bambu dari bahasa Jawa.  Karena itulah, di pasar ini hampir semua elemen  yang ada menggunakan bambu, mulai dari bahan-han penyajian, dekorasi, sovenir, hingga bentuk untuk transaksi penjualan.

Pada pasar ini dijual lebih dari 140 kudapan tradisional, produk pertanian, dan 50 jenis kerajinan buatan masyarakat.

Namun sebelum makan, Anda harus menukar uang dengan uang koin dari bambu. Satu uang koin bambu setara dengan Rp 2.000. Uang bambu itu kemudian ditukar alat transaksi jual beli.

"Partisipan penjual sudah satu dusun lebih, sekitar 150 kepala keluarga, baik jualan atau jadi penyelenggara pasar," kata Fransiska lagi.

Beberapa hidangan yang jadi favorit wisatawan di sana ialah lesah ayam, bajingan, gablok pecel, dan lainnya. "Di pasar ini bebas plastik, dan bebas penyedap, pewarna, dibuat home made, seperti layaknya di desa," kata Fransiska.

Di pasar itu juga dijual peralatan dari bambu karya warga sekitar, mulai dari alat masak, suvenir, aksesoris, radio, hingga sepeda bambu yang dikenal hingga mancanegara. Di tempat asalnya, pasar wisata ini sudah berjalan dua tahun. Anda hanya bisa mengunjunginya setiap tanggal 1 Wage dan 1 Pon dalam penanggalan Jawa. 

“Dan hanya buka dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 12.00 siang.  Pendapatan warga dari berdagang di sana, rata-rata Rp 500 ribu/ hari pasar!”

Namun, untuk menjangkau tempat ini, diusulkan memang harus menginap di Temanggung. “Karena jika Anda mengawali perjalanana dari Yogja, dibutuhkan waktu tiga jam perjalanan sampai ke posisi ini.

Konsep Pasar Papringan sengaja diletakan di desa, agar orang mulai kembali pada desa. Lokasi berjualan pun didesain berada di bawah pohon bambu. Suasana rindangnya pohon bambu menyelimuti perjalanan siang itu. Pasar ini dilengkapi dengan aneka permainan anak, ada perpustakaan mata air, ada juga bilik menyusui. XPOSEINDONESIA/NS Foto :


Last modified on Sunday, 27 May 2018 13:54
Login to post comments