Lukisan Mural Melapis Rumah Tua di Batu Licin

08 August 2017

Eksotisme alam Kepulauan Bangka Belitung memang tak terbantahkan. Hampir seluruh  sudut negeri memiliki daya tarik yang wisata yang memesona. Wisata pantai, laut,  bawah laut, atau wisata di kawasan pegunungan semua menarik. Sementara itu, bangunan-bangunan kuno  yang tersebar hampir di pelosok negeri  dan merupakan rumah penduduk juga menjadi daya tarik tersendiri di mata wisatawan.

Lihatlah di perkampungan Pecinan  Batu Licin, Kabupaten Toboali Bangka Selatan, rumah- rumah tua berusia sekitar satu abad  berjejer  dengan dinding yang memperlihatkan lukisan mural dengan gambar yang berorientasi pada ornamen China. Rumah pecinan ini memang sengaja dimasukan  ke dalam rangkaian  festival Toboali Oriental Mural Festival  yang merupakan bagian dari kegiatan budaya dan pariwisata Toboali City on Fire 2017. Festival ini diisi dengan berbagai rangkaian acara budaya, salah satunya adalah festival mural yang diadakan di wilayah pecinan Toboali, Bangka Selatan.

Justiar Noer Bupati Bangka Selatan menyebutkan kampung  Pecinan di masa lalu merupakan pintu perdagangan Bangka Selatan dari Jakarta atau Betawi. "Di tempat  inilah dilakukan bongkar muat, pengiriman dari Betawi. Jadi, semua barang-barang masuk, seperti Timah dan Kelapa, dibongkar muat di sini. Di sekitar ini juga ada rumah bong, tauke, karena banyak perdagangan dari China," kata Justiar kepada XPOSEINDONESIA di Toboali, Bangka Selatan.

Penyelenggaraan festival mural diupaya menjadi salah satu cara pemerintah daerah untuk tetap mempertahankan dan membangkitkan kembali kampung pecinan di Batu Licin. Kondisi rumah yang tua, kusam dan lapuk  karena tergerus zaman, membuat kampung iai terlihat tidak terurus. Karena itulah sentuhan lukisan mural  yang dikerjakan di dinding kusam  dan terlihat rapuh menjadi daya tarik baru  bagi wisatawan.

Lukisan mural sendiri dikreasikan oleh para seniman dari dalam dan luar Balel yang diperlombakan dalam kompetisi   Oriental Mural Festival. Puluhan peserta terkumpul dan memunculkan  lima nama pemenang  yakni Dila Seruto (Juara I), Tulus Van Shabiba (Juara II), M. Ikhsan (Juara III), M. Ilham Faeny (Juara Harapan I), dan Idham Kholid (Juara Harapan II). Karya para peserta lomba dan pemenanglah yang kemudian  terpajang di kawasan pecinan Baru Licin. "Kita berharap mural ini bisa dijadikan wisata budaya, semua gambarnya juga bernapaskan etnis," ujar Justiar.

Namun dengan tegas Justiar menolak tempat ini dialihkan fungsi sebagai cagar buaya, terlebih dalam jangka waktu dekat. "Untuk dijadikan cagar budaya, bisa dipastikan akan sulit. Soalnya menyangkut pendanaan dari pemerintah untuk perbaikan rumah- rumah tersebut. Kami tidak ada pos. Karena itu kami  hanya bisa berpesan (kepada pemilik, Red) agar tidak mengubah bentuk rumah, karena ini tempat nenek moyang mereka, karena sebagian rumah sudah mulai parsial," kata Justiar.

Pada kenyataaan, menurut Justiar, sejumah rumah di lokasi tersebut ada yang telah beralih fungsi. “Misalnya rumah disewakan ke orang lain dan  dijadikan tempat usaha berupa gudang  wallet.  Kami berharap, lokasi ini memang sebaiknya dipertahankan tidak dialih fungsi. Tapi sulit juga membatasi, karena pemiliknya  sudah tidak ada lagi. Sementara anak cucunya pindah ke Jakarta. Jadi siapa yang  jaga rumah? Kalau Pemda yang mengambil alih, berat juga  pembiayaannya!”

Justiar sendiri menyebut banyak langkah yang terus diupayakan untuk menjaga kelestarian kampung tersebut. Misalnya dengan mengucurkan dana untuk memasang lampion-lampion khas Tionghoa di setiap rumah. Ketika malam, lampion ini akan menyala cantik dan menghidupkan suasana kampung China. “Jadi  wisatawan mau datang ke sini. Kami juga akan menyelenggarakan festival Barongsai lagi tahun depan, dengan jumlah peserta lebih  banyak dari tahun ini  yang 2000-3000 peserta, wasitnya didatangkan  dari internasional. Kita harap Presiden bisa datang!” ujarnya XPOSEINDONESIA/NS. Laporan dan Foto Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Tuesday, 08 August 2017 08:05
Login to post comments