Festival dan Lomba Seni Siswa : Belajar Menerima Kekalahan

03 October 2017

Sebuah Lomba dan Festival Seni Siswa Nasional [FLS2N], apalagi dengan scope Nasional tak hanya penting untuk menjaring pemenang yang memantapkan fungsi otak kiri otak kanan, tapi juga perlu sebagai ajang sosialisasi antar pelajar dari 34 Provins di Indonesia. Melatih kebersamaan, menata keberanian manggung di depan audiens dan Dewan Juri, memahami  kelebihan dan kekurangan orang lain.

Lebih dari itu, Festival dan Lomba Seni antar Siswa Nasional ini juga menjadi sarana memantapkan mental atau psikologi massa, untuk bisa menerima kekalahan dan berempati pada sesame bagi mereka yang menjadi juara. Itulah hakikat digelarnya FLS2N oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 2017, FLS2N tingkat SD dan SMP digelar di Surabaya, tingjat SMA / SLTA dipresentasikan di Kupang NTT.

Lomba Individual

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional [antar siswa SD, SMP dan SMA] yang digelar Kemendikbud ini menampilkan pelajar secara individual dan kelompok pada Lomba dan Festival Penyanyi, Lomba Tari, Musik Tradisional, Cipta dan Baca Puisi, Lomba Permainan Gitar. Pendaftaran peserta dilakukan sejak di Kabupaten/Kota sampai ke Tingkat Provinsi untuk mewakii Provinsi di tingat Nasional. Lomba bisa berbentuk individual [Penyanyi, Cipta dan Baca Puisi, Gitar] atau Kelompok [Musik Tradisional, Menari]. Tahun lalu FLS2N juga menampikan Lomba Vocal Group dan lomba yang berkaitan dengan disain grafis dan melukis.

Menarik dicatat adalah Lomba yang bersifat Individual, karena di atas panggung, seorang pelajar yang masih belia [usia 6 – 12 tahun buat SD, 13 – 15 SMP dan 16 – 18 SMA] harus mempertanggung-jawabkan penampilannya di bidang seni, seperti menyanyi, tari, musik tradisi dan baca puisi. Dapat dibayangkan bagaimana siswa SD dan SMP, juga mungkin siswa SLTA /SMA harus di panggung ‘sendirian’ atau ‘kelompok’. Memainkan harmoni musik yang indah sekaligus eksploratif.

Tapi, secara psikologis mental pelajar itu juga ‘ditekan’ karena mereka mewakili Kabupaten /Kota dan Provinsi. Sebagian dari mereka juga membawa ‘pesan pelatih’, belum tentu mampu menemukan karakter sendiri, setidaknya upaya keras buat menemukan jati diri masih terasa sulit. Mungkin baru sebagian peserta SMA/SLTA yang sudah memiliki jam terbang, seperti layaknya seniman, penampil profesional.

Menghargai Orang Lain

Pada sesi workshop Penyanyi, terungkap betapa penting sejatiya bersosialisasi, saling menghargai pendapat orang lain, berempati, tidak mudah menyerah, dan menerima kekalahan dan bagi mereka yang menang, tetap mensupport rivalnya yang belum beruntung jadi juara.

Oti Jamalus, Dewan Juri Lomba Menyanyi lebih menekankan pentingnya memahami segala hal tentang teknik menyanyi, frashering, artikulasi, teknik pernafasan, aksi panggung juga masalah yang berkaitan dengan tata suara dan teknik miking. Oti sangat berharap, suatu saat bisa bertemu beberapa remaja itu di studio rekaman, miliknya atau di bawah directing vocal siapapun. Intinya, Oti berharap, nantinya anak-anak SMP yang berbakat menyanyi ini, bisa menjadi penyanyi profesional.

Bens Leo – juga Dewan Juri Lomba Menyanyi - mencontohkan bagaimana jika suatu saat peserta FLS2N itu berada diluar lingkaran lomba. Bens mencontohkan, betapa kusut wajah personil Kahitna dari Bandung tatkala di tahun 1992, lagu-lagu karyanya ditolak label rekaman, padahal band dengan creator lagunya bernama Yovie Widianto itu baru saja memenangi medali emas kompetisi band dunia Yamaha Light Music Contest, Tokyo 1991.

Lagu lagu karya Kahitna dianggap tak layak rekam, karena dianggap ‘lagu festival’ yang tidak komersial. Bens Leo lalu siap memproduseri Kahitna, membiayai seluruh rekamannya, asal pemakaian shift [jadwal rekam]-nya separuh dari biaya yang biasa disiapkan major label.  Bens menganggap, tidak masuk akal album rekaman Kahitna ‘tidak laku’; karena band ini juara dunia. Akhirnya terbukti album ‘Cerita Cinta’ Kahitna yang dirilis tahun 1993, meledak di pasaran. Musica Studio’s yang semula menolak Kahitna, membuka kerjasama sebagai distributor ‘Cerita Cinta’ sampai akhirnya Kahitna menjadi band yang full sign di Musica, hingga sekarang.

Bens Leo juga meyakinkan para peseta Lomba Menyanyi antar siswa SMP itu, bahwa Harvey Malaihollo yang ‘lulusan; Kejuaraan Bintang Radio itu, juga popular setelah merilis album rekamannya sekitar tahun 1988. Buat mereka yang belum beruntung pada lomba ini, Dewan Juri berpesan, jika usianya masih memungkinkan ikut lagi, tahun depan harus tampl lagi sebagai finalis di tingkat Nasional, atau ikut dalam kejuaraan sejenis di tingat SLTA. Jadi, tidak boleh putus asa.

Dewan Juri juga mengingatkan, kalah dalam lomba tingkat Nasional, namanya belum tentu terpuruk. “Grup Jamrud dari Cimahi, tidak pernag masuk 10 Terbaik Festival Lagu Rock Nasional yang digarap Log Zhelebour, tapi sejak membuat rekaman tahun 2000-an, Jamrud pernah menjadi band dengan harga manggung termahal setelah Slank,” kata Bens Leo. Itu artinya, peluang para finalis yang nota bene adalah penyanyi unggulan dari 34 Provinsi ini untuk menjadi kondang nantinya, sama baiknya.

Musik Tradisional

Menarik adalah, ditampilkannya Festival Musik Tradisional dalam FLS2N. Anak-anak yang baru lolos akil baliq itu dilatih untuk melakukan eksplorasi musik tradisional di daerahnya.  Gamelan, sampek, conga, tiffa, angklung, marimba, suling, dan berbagai perkusi dan alat musik gesek, tiup ditampilkan, dieksplore dengan instrumen ‘musik Barat’. Peserta Musik Tradisi juga memasukkan unsur koreografi, sejenis operette, atau cerita dalam pementasannya, seperti yang dilakukan para siswa SMP di Malang, yang tampil dengan musik yang bercerita tentang kebanggaannya sebagai ‘penggemar sepak bola’. Mereka mewakili Provinsi Jawa Timur.

Siswa SMP dari Gorontalo, tampil dengan perkusi dari kayu dan bambu yang dibuatnya sendiri, dengan koreografi dan kostum menarik. Juga finalis Festival Musik Tradisional dari Minangkabau, tampil dengan warna kostum yang kebyar-kebyar, kaya dengan dinamika permainan, lepas dari kesan ‘warna musik Minang’ yang umumnya terkesan ‘melayu’. Tentu saja Jawa Tengah, dan Yogyakarta tampil dengan warna local gamelannya lengkap dengan inovasinya, sementara pelajar dari Bali tetap mempertahankan dinamika musik tradisi Balinya.

Koko Thole yang bertindak sebagai juri Festival Musik Tradisional berharap anak-anak muda ini hendaknya suatu ketika dapat melanjutkan pengembaraan para kreator world musik atau biasa disebut juga  musisi kontemporer seperti Djaduk Ferianto [ Jawa], Vicky Sianipar [Batak], Dwiki Dharmawan [Sunda],  Balawan [ Bali], Rizaldi Siagian, alm Harry Roesli, alm Sapto Rahardjo, alm Ben Pasaribu dan banyak konseptor world music asal Indonesa lannya.

AKhirnya, kita ucapkan terima kasih yang tak terhingga pada Kemendikbud, yang telah berhasil menggali talenta seni anak muda Indonesia, sejak dini. XPOSEINDONESIA - Teks dan foto Bens Leo

More Pictures


   

Last modified on Tuesday, 03 October 2017 17:09
Login to post comments

Music

July 13, 2013 0

Andi Auriec Menunggu Berkah ‘Sampai Mati’

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke  Ancol Beach City...
July 27, 2013 0

Metalica Live in Jakarta

Metallica, akan manggung di Jakarta pada Minggu, 25...
July 27, 2013 0

“Best Song Ever” dari One Direction

Superstar global, One Direction merilis single terbaru...
July 29, 2013 0

Alicia Keys Manggung di Jakarta

Alicia Keys terkenal di dunia musik sebagai pelantun...