Anna Mariana Memberi Workshop Tenun di Mahkamah Agung

28 April 2017

Dharma wanita di lingkungan Mahkamah Agung  (MA) yakni Dharmayukti Karini menyelenggarakan peringatan Hari Kartini,  dengan menggelar acara Lomba Busana Kartini, bazar, demo make up, dan workshop tentang Tenun dan Songket Betawi oleh DR Hj. Anna Mariana S.H, M.H, M.B.A. kegiatan yang digelar  di Balirung MA, Jalan Merdeka Barat, 27/4 ini menampilkan fashion show  dengan menampilkan peragawati  “dadakan” anggota Dharmayukti Karini dari empat Daerah,  yakni MA Pusat, Jawa Barat, Banten dan DKI.

 

“Kartini Masa Kini yang Cinta Budaya“ menjadi tema utama  dalam penyelenggaraan peringatan Hari Kartini yang ke 138.  Menurut Ketua Umum Dharmayukti Karini, Hj. Roosdiaty Hatta Ali,  dengan tema ini Anna Mariana sengaja dipilih menjadi nara sumber untuk work shop kali ini. “Karena Anna Mariana telah bertahun-tahun bergelut memproduksi busana dari bahan tenun. “Tenun adalah produk budaya. Dengan mengenal tenun lebih dekat, ini berarti wujud  kita mencintai budaya!”

Pemberian workshop tentang tenun ini  dinilai  Roosdiaty akan memberi pencerahan  bagi anggota Dharmayukti Karini,  “Kita akan mengenal dan paham seluk beluk proses pembuatan songket dan tenun  termasuk perawatannya.  Songket dan Tenun itu lebih menarik dibanding  produk fashion luar negeri. Jika dikenakan bisa membuat penampilan seseorang menjadi istimewa dan berbeda!” ujar Roosdiaty yang mengaku memang menyukai produk kain tradisonal sejak lama.

Anna Mariana dalam paparannya menyebut, ia telah lebih 30 tahun bergelut dalam kerja kreatif ini, dan telah membuat beberapa terobosan baru dalam sejarah tenun dan songket Indonesia , yakni dengan mencetuskan lahirnya Tenun dan Songket Betawi.

“Dalam sejarah Betawi, tidak dikenal tradisi tenun maupun songket yang digarap secara hand made. Saya mencoba menciptakan tenun dan songket dengan mengambil motif icon Betawi sepeti Monas, Ondel-ondel dan lain-lain. Saya langsung mendaftarkan karya cipta  Tenun dan Songket Betawi  agar  resmi terdaftar  menjadi milik kita,” ujar Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara  sekaligus Pembina dan Pengelola Pengrajin Tenun Kain dan Kerajinan Bali ini bersemangat. “Kami rencanakan,  bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Jakarta Tenun dan Songket Betawi bisa selesai proses produksi dan  resmi dirilis,” ungkap Anna.

Anna menyebut dalam proses kreatif pewarnaan benang tenun,  ia masih percaya menggunakan bahan-bahan alami. “Semua pewarnaan untuk benang yang kami gunakan diambil dari bahan alam. Bisa dari kulit pohon, daun-daunan, maupun akar. Ini yang membuat pewarnaan pada tenun dan songket juga menjadi berbeda  dengan  bahan tekstil hasil pabrikan.” ujar Anna.

Lebih lanjut, Anna meminta doa restu agar upaya yang telah dilakukanya selama ini bisa mendapat apresiasi pemerintah. “Saya berharap, suatu hari tenun dan songket bisa dihargai sama dengan Batik, Jika Batik punya hari peringatan, saya berharap tenunpun begitu. Mohon doa restunya!”

Ketua MA Prof. Dr. H. M. Hatta Ali, SH  yang hadir hingga acara selesai,  berharap  tenun yang merupakan warisan nenek moyang ini bisa semakin bersaing dengan produk fashion dari luar negeri di masa depan. “Saya yakin, budaya  tenun yang kita gali dari bumi kita sendiri  ini jarang ditemui di luar negeri.  Motif dan warnanya sangat bagus. Cuma mungkin, pemasarannya  belum luas, sehingga masih banyak orang di luar Indonesia yang belum mengenalnya,” tuturnya. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

 

Last modified on Friday, 28 April 2017 09:16
Login to post comments