Hindari Es Balok dari Sekarang!

10 October 2013
DR. Roy Sparringa, MApp.Sc, Deputi III Badan POM RI (kedua dari kanan) dan Dr. Pauline Endang Praptini, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinis dari RS Fatmawati melakukan foto bersama dalam acara Media Workshop “Sehatnya Duniaku” di Jakarta, 9 Oktober 2013 DR. Roy Sparringa, MApp.Sc, Deputi III Badan POM RI (kedua dari kanan) dan Dr. Pauline Endang Praptini, MS, SpGK, dokter spesialis gizi klinis dari RS Fatmawati melakukan foto bersama dalam acara Media Workshop “Sehatnya Duniaku” di Jakarta, 9 Oktober 2013

 

99 persen anak sekolah suka jajan. Ini merupakan hasil Survei Badan POM tahun 2008 di 18 provinsi,  yang melibatkan 108.000 responden, di 4500 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah!

“Oleh karena itu pangan jajanan anak sekolah (PJAS) harus diawasi keamanan, mutu dan gizinya,” begitu ungkap Roy Sparringa Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM RI, di Jakarta saat Media Workshop “Sehatnya Duniaku di Jakarta, Rabu (9/10/2013).

Jajanan Tidak Memenuhi Syarat


Padahal, dalam kenyataannya,  kebanyakan PJAS yang beredar di lingkungan sekolah  termasuk yang tidak memenuhi syarat (TMS),  karena mengandung bahan berbahaya, bahan tambahan pangan berlebih  juga memiliki kualitas mirkobiologi yang buruk.

“Berdasaran penelitian kami dalam kurun 2009-2013, permasalahan kualitas mikrobiologi yang tidak memenuhi syarat menjadi kendala paling parah,” lanjut Roy Sparringa. 

Ia lantas menyebut es balok, merupakan salah satu PJAS yang paling buruk kualitas mirobiologinya, dan tidak memenuhi syarat  kesehatan ; “Pastinya es balok dibuat  dari air yang tidak memenuhi persyaratan kualitas air minum,  tanpa klorinasi, juga tidak dimasak lebih dulu!” lanjut Roy.

Selain es balok, jenis pangan jajan anak sekolah yang dinilai tidak memenuhi  syarat adalah  minuman berwarna dan sirup,  jelly atau agar-agar yang mengandung Rhodamin B,  di samping bakso juga mie yang memuat  bahan pengawet formalin dan borax

Bisa Memicu Cancer

Dokter Spesialis Gizi Klinis dari RS Fatmawati, Dr. Pauline Endang Praptini, MS, SpGK mengatakan,  efek dari mengkonsumsi  pangan yang semacam itu bisa  langsung terasa oleh anak-anak,  seperti  mengalami sakit perut, pusing  dan muntah-muntah, iritasi pada hidung dan tenggorokan.

“Bukan cuma itu, khusus untuk formalin, bisa menimbulkan efek  gangguan tidur, depresi juga penurunan daya ingat. Dan dalam jangka panjang akan menyebabkan mutasi genetik menjadi cancer!” kata Dr. Pauline Endang lagi.

Untuk menyelesaikan 80 persen permasalahan PJAS, menurut Roy, perlu dilakukan intervensi  langsung pada produk jajanan tersebut.  Khusus untuk produk es batu, “Kami akan  langsung melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pemasok es balok, melalui bimbingan teknis keamanan pangan juga audit di sarana produksi dan distibusi es balok! Untuk itu perlu juga dlibatkan pihak terkait seperti, Kemen Perindustrian, Kemen Perdagangan,  Kemen KUKM, Kemen Kesehatan, Kemen Kelautan dan Perikanan, Badan Pom dan Pemerintah daerah.”

Gerakan Anti Es balok

Roy  juga menyarankan, jika dalam keadaan terdesak, misalnya membeli minuman di pinggir jalan, ada baiknya memilih minuman dalam kemasan yang sudah didinginkan. “Kalaupun mereka memakai es balok untuk mendinginkannya tidak jadi masalah!”

Upaya peningkatan keamanan PJAS secara nasional,  menurut Roy harus melibatkan semua lini di pusat dan daerah. Bahkan perlu diadakan pembinaan konsumen termasuk dalam komunitas sekolah. Perlu dilakukan  juga pengembangan tenaga fasilitator atau kader  Keamanan Pangan Sekolah.

Roy menambahkan, “Upaya tersebut bisa memberi perlindungan terhadapt  3 juta anak usia SD, perubahan perilaku terhadap 6 juta orang tua siswa, 180.000 guru, 180.00o pedagang PJAS dan 54.000 pedagang kantin!”  ( XPOSEINDONESIA / Nini Sunny- Foto Dok Furtune PR.)

Last modified on Thursday, 10 October 2013 09:19
Login to post comments