Obesitas dan Dampak Negatifnya

02 October 2013

Kalau kita berjalan-jalan di tempat umum, seperti di Mal, pasar tradisional, rumah sakit pasti kita akan bertemu salah satu atau salah dua di antaranya  berbadan tambun, baik dewasa maupun anak-anak.

Dr.Pauline Endang Praptini, MS,SpGKMereka tidak terlihat risih dengan kondisi tubuhnya. Walaupun mereka berjalan bersama teman atau keluarga yang berbadan normal ataupun langsing.

Kondisi semacam ini cukup memprihatinkan. Karena sebetulnya, gemuk bukan lagi lambang dari kemakmuran,  melainkan tanda akan datangnya penyakit yang disebut sebagai penyakit degenerative. Biasanya, penyakit ini menyerang orang tua, namun bisa pula mengenai orang muda apabila berat badan termasuk kategori obesitas.. 

Obesitas bisa timbul karena selama bertahun-tahun salah dalam menerapkan gaya hidup dan pola makan. Sekarang ini, obesitas sudah masuk dalam kategori penyakit yang harus disembuhkan.

Obesitas bisa menyebabkan seseorang  terserang sindroma metabolic seperti  Diabetes Melitus atau penyakit kencing manis, hiperkolesterolemia atau peningkatan kadar kolesterol darah serta hipertensi atau peningkatan tekanan darah. 

Disebut Diabetes Melitus apabila hasil pemeriksaan laboratorium kadar gula darah puasa lebih dari 126 mg/dl. Dan kadar gula darah 2 jam setelah makan lebih dari 200 mg/dl. Disebut Hiperkolesterolemia apabila pemeriksaan laboratorium  kadar kolesterol darah lebih dari 200 mg/dl.  Dan disebut hipertensi apabila pemeriksaan tekanan darah systole lebih dari 140 mmHg dan diastole lebih dari 90 mmHg.

Ketiga penyakit tersebut merupakan penyebab utama terjadinya serangan jantung koroner  dan stroke, biasa disebut sebagai penyakit jantung dan pembuluh darah yang bisa menyebabkan kematian atau kecacatan secara fisik dan mental.

Penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan menyebutkan, angka kematian dan kecacatan karena penyakit jantung dan pembuluh darah tersebut, menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, bahkan sudah menduduki  peringkat paling atas.

Data yang tertulis dalam buku Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, menyebutkan angka obesitas untuk usia di atas 18 tahun mencapai 27,7 juta jiwa atau sekitar 11,7% dari jumlah penduduk di Indonesia.

Dari angka tersebut terlihat jumlah wanita lebih banyak dibandingkan pria. Dan di daerah perkotaan lebih tinggi angkanya dibanding di pedesaan. Angka tersebut cenderung akan meningkat terus, apabila kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat  sangat rendah yaitu berfikir sehat, istirahat sehat, aktivitas sehat dan pola makan sehat.

Idealkan Berat Tubuh Anda?

Bagaimana sebenarnya untuk mengetahui berat tubuh kita termasuk ideal, normal atau sudah terkena obesitas? Untuk mengetahui hal tersebut, kita harus menghitung berapa nilai Indeks Masa Tubuh (IMT) kita. 

Caranya? Dengan mengihutung berdasarkan rumus berat badan dalam kg, dibagi dengan Tinggi Badan dalam meter dikwadratkan = BB(kg)/TB (m)2.

Berat Badan tubuh kita dianggap normal apabila nilai IMT antara 18,5-22,9, underweight bila IMT kurang dari 18,5 dan  over weight bila IMT mencapai 23-24,9 dan obesitas bila IMT lebih dari 25.

Banyak pria maupun wanita apabila mengalami kegemukan, maka lingkar perutnya bertambah besar. Nah, sekarang coba ukur lingkar perut Anda.  Apabila lingkar perut melebihi nilai standar yaitu >90 cm pada pria, dan >80 cm untuk wanita sudah disebut mengalami obesitas sentral.

Banyak penelitian menunjukkan, seseorang dengan obesitas sentral sering mengalami gangguan metabolisme yang menyebabkan munculnya keluhan sindroma metabolic. Bisa menderita minimal salah satu dari ke tiga jenis penyakit diatas.

Bagaimana cara menjaga agar berat badan kita tidak  masuk dalam obesitas? Ada dua hal yang harus diperhatikan, dan harus dilakukan bersamaan dan tidak bisa terpisah satu dengan yang lain. Yaitu melakukan pengaturan makan dan olah raga.

Kalau hanya melakukan pengaturan makan atau diet tanpa olah raga, maka berat badan akan sulit untuk diturunkan. Karena metabolism tubuh sangat rendah, sehingga walaupun makan hanya sedikit tidak bisa terjadi pembakaran lemak.

Satu-satunya cara untuk meningkatkan metabolisme tubuh hanya dengan olah raga. Sehingga apabila kita ingin tetap menjaga berat badan, harus melakukan dua hal tersebut secara bersama-sama.

Dr.Pauline Endang Praptini, MS,SpGK
Kepala Instalasi Gizi RSUP.Fatmawati
Konsulen Gizi Klinik RS Puricinere dan RS.Mayapada Lebak Bulus

Last modified on Wednesday, 02 October 2013 11:32
Login to post comments