“Inerie”  Doku Drama Ibu Bersalin yang Menyentuh

30 June 2014

Lola Amaria Productition bekerja sama dengan Australia (Kemitraan Australia Indonesia  untuk Kesehatan Ibu dan Bayi (AIPMNH ) membuat film dokumenter fiksi, yang “berat” secara isi, namun digambarkan secara indah dan menyentuh. Terlebih dukungan ilustrasi musik yang ciamik karya Ivan Nestorman, membuat film ini  enak ditonton.

 

Judulnya “Inerie” ( Mama Yang Cantik ) bercerita tentang keselamatan seorang ibu hamil saat melahirkan. Film yang disutradarai Chairun Nissa ini mengambil lokasi  syuting di desa yang sangat indah di Tololela, Flores. 

“Inerie” berkisah ada sepasang saudara kembar Bella (Maryam Supraba) dan Bello (Emanuel Tewa)  dari desa Tololela, Bajawa, Pulau Flores. Bello  yang sempat  merantau  ke luar dari desanya, ketika kembali  mendapati adik kembarnya sedang hamil anak ketiga. Anak kedua Bella wafat ketika  melahirkan.  

Bella bersikeras ingin melahirkan di rumah. Karena adat memang seperti itu. Namun Bello  meminta adiknya bersalin di puskesmas, terlebih ia melihat Bella  tidak terlalu sehat sepanjang hamil. Ide Bello bukan hanya ditentang Bella, namun  juga dijegal ayah  dan warga setempat.  

Sikap Bella melunak,  namun untuk  bersalin di rumah sakit  Bello dan warga setempat harus  membuat tandu dan mengangkat Bella dengan berjalan kaki  lebih dari setengah hari. Sebuah upaya  penyelamatan ibu dan bayi yang sangat  menyentuh.

Sumbangsih Australia Untuk Ibu & Anak 

John Leigh,  Direktur Unit Kesehatan Luar Negeri dan Perdagangan Australia menyebut, Australia sejak tahun 2008 sudah mendukung upaya Indonesia  dalam meningkatkan pelayanan  kesehatan Ibu dan bayi di 14 dari 22 kabupaten di Nusa Tenggara Timur. 

“Tujuannya  membantu Indonesia  memberikan sumbangsih  pada pengurangan kematian ibu dan anak,” katanya pada saat press conference film ini di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2014).

Seperti kita tahu, di berbagai pelosok tanah air, peningkatan kesehatan ibu dan anak masih menjadi tantangan besar. Angka kematian ibu saat melahirkan  masih tinggi. Ini terjadi karena banyak wanita  di pelosok  masih melakuan persalinan di rumah dengan bantun keluarga dan dukun tradisional. 

Alasan lain, karena adat juga  persepsi negatif   mereka tentang layanan kesehatan. Belum lagi  masalah kemiskinan, dan tak ada  kemampuan biaya untuk bersalin di puskesmas atau rumah sakit, di samping  jarak tempuh  dari rumah ke puskesmas memang sangat jauh. 

Dengan dasar persoalan itulah “Inerie” diproduksi.   Lola Amaria,  selaku Produser, menyebut “selain mencoba mengangkat pesan baik, kami juga menyajikannya dalam  kemasan gambar yang memperlihatkan geografis juga  adat istiadat masyarakat yang betul-betul indah di NTT," ungkap Lola.

Lola berharap, film ini bisa memberikan dampak positif pada menurunnya tingkat kematian ibu saat melahirkan. " Semoga masyarakat semakin terbuka pikirannya, dan pemerintah bisa membuat aturan baru di mana semua lapisan masyarakat dapat terfasilitasi saat melahirkan," imbuhnya.

Jhon Leight,  menyebut  film ini akan diputar di 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur dan disiarkan di stasiun TV setempat. “Di masa depan, kami siap menjalani kerja sama  dengan  pihak Indonesia, dalam program kesehatan yang seperti ini. XPOSEINDONESIA./Nini Sunny. Foto : Dudut Suhendra Putra

More Picture

 

Last modified on Monday, 30 June 2014 04:54
Login to post comments