Leny Rafael Terjun Ke Ready To Wear dengan Troso

19 November 2017

Leny Rafael makin mengembangkan sayap bisnisnya di industri mode. Selama ini, ia dikenal sebagai designer baju kebaya untuk pesta dan pernikahan,  kini  Leny mencoba  masuk  ke jalur ready to wear dengan mengangkat keindahan Tenun Troso khas dari Desa Troso Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Kenapa memilih  tenun Troso? Menurut Leny, karena  sejak bergabung dengan Komunitas  Designer Etnik Indonesia dua tahun lalu, ada  semacam himbauan untuk menggunakan bahan etnik.  “Kalau bukan kita siapa lagi yang  mempromosikan dan menggunakan etnik,” kata Leny Rafael dalam pertemuan dengan wartawan seusai  karyanya dipanggungkan dalam Indonesia Ethnic Fashion Week (IEFW) di JCC 18/18/2017.

Nah, karena kebanyakan designer sudah menggunakan batik, tenun NTB maupun tenun NTT dalam  rancangan mereka, maka pilihan jath pada Troso dari Jepara. “Kebetulan aku orang  Jawa, Dan yang lebih pasti lagi, Troso terhitung murah, berbeda dengan tenun dari daerah lain!”

Sejumlah karya ready to wear  yang ditampilkan hari itu   memperlihatkan gaun girly  dengan kesan glam sesuai dengan ciri khas karya Leny Rafael. Gaun itu dibentuk dari kain tenun Troso  dengan warna-warna alam dipadu bahan lace, satin, organdi,  sutra juga pernik-pernik bling bling. Kesan anggun, cantik dan  elegan.

“Saya sekarang memang terjun bikin ready to wear. Tapi limited edition, artinya satu design maksimal dibuat untuk 2-3 baju,” katanya sambil menyebut harga karyanya berisar antara Rp 500 ribu-Rp 2,5 juta.

Harga sebuah gaun karya Leny terhitung masih rasionable, terlebih bila dibandingkan dengan perancang seperti Dian Pelangi, misalnya yang sudah bisa mematok harga sebuah gaun senilai Rp 60 juta-Rp 8o juta.

Busana dengan sentuhan tenun etnik, memang biasanya mahal, karena harga kain tenun sendiri  memang sudah mahal. Tapi Leny menyiasatinya dengan menggunakan tenun Troso yang tidak menggunakan pewarnaan bahan dari alam.  “Tenun Troso terbilang masih murah. Jadi aku bikin gaun ready to wear dengan harga terjangkau namun kesannnya mahal. Dengan begini, aku juga pengen  mengangkat kesan Trosonya lebih up lagi !” ujar Leny.

Menurut Leny ide mengangkat Tenun Troso, karena motifnya yang indah, serta popularitas yang tengah naik pamor. "Sekilas, motifnya mirip tenun dari Indonesia Timur seperti NTT atau NTB, tapi kalau Tenun Troso didominasi motif geometris hingga karakter tumbuhan –tumbuhan.

Menurut  Leny, tenun bisa dipadupadankan dengan semua jenis bahan.  “Tergantung  konsep  bajunya mau dibikin  seperti apa. Kalau mau glamour  harus dipadu dengan bahan yang eksklusif dan mahal, seperti  lace, sutra, satin, organdi. Tapi kalau mau soft,  maka padukan dengan katun,  jadinya nanti akan kasual, “ tutur Lenny menutup percakapan. XPOSEINDONESIA. Teks dan Foto Muhamad Ihsan

More Pictures

Last modified on Sunday, 19 November 2017 03:29
Login to post comments