Anna Mariana Cerita di Balik Kain Songket & Tenun Bali

09 September 2016

Bagi perancang sekaligus pencinta kain tenun dan songket Bali seperti Anna Mariana SH.MBA, selembar kain tenun dan songket  selalu punya cerita  istimewa dan berbeda. “Kain yang ditenun ketika hati sedang galau akan berbeda hasilnya, dibanding ketika si penenun sedang jatuh cinta,”  ungkap Anna Mariana dalam press conference seusai ia menyelenggarakan fashion show kain karyanya bersama koreografer Ati Ganda di ruang Sasana Dharma Pradata  di kompleks perkantoran Kejaksaan di Blok M, Jakarta Selatan, 7 September  2016.

 

“Buat orang sudah yang ahli, pasti bisa menemukan  ada tarikan benang dan warna khas yang kurang teratur yang dihasilkan orang sedang galau!” ungkap Anna Mariana yang kini menjabat sebagai Ketua Komunitas Pencinta Kain Nusantara (KPKN) dan sudah menekuni desain dan bisnis kain tenun dan songket Bali sejak 15 tahun terakhir.

Untuk melancarkan produksi kainnya, Anna telah membina dan mempekerjakan lebih dari 30 pengrajin. Mereka mempunyai keahlian  menenun bertahun-tahun dan menghasilkan karya seni tinggi. Rata-rata dari mereka menetap di Bali dan sudah berusia di atas 40 tahun. 

"Saya mengikat mereka bekerja dengan membantu menyediakan modal kerja, agar ada kepastian penghasilan. Dan saya punya kepastian hasil karya mereka bisa saya dapatkan tepat waktu," ujar Anna yang menyebut  sangat langka menemukan penenun berusia muda. “Orang muda sekarang ini tak begitu tertarik menjadi penenun, Mereka lebih banyak tertarik bekerja di pelayaran!” Namun, Anna tidak putus asa untuk menemukan dan mengembangkan kreativitas penenun muda.

“Saya mencoba menemukan mereka, meski dengan catatan mereka harus diiming-imingi hal tertentu yang mereka sukai,  misalnya bisa jalan-jalan ke Jakarta  dan bisa melihat Monas!” ujar Anna dengan tergelak

Berdasarkan pengalaman, menurut Anna setiap pengrajin bisa menghasilkan karya dengan durasi waktu berbeda. Tergantung tingkat kesulitan dan jenis kain tenun yang dihasilkan seperti kain yang dibuat dari benang sutra.  "Biasanya satu kain bisa selesai minimum 1 bulan dan maksimal 6 bulan. Makin lama pengerjaan  akan makin baik dan sempurna hasilnya, maka akan semakin mahal pula harga kainnya," kata Anna yang menentukan harga kain karyanya dari harga sekitar 3 juta hingga 60 juta

Sepanjang berkarir sebagai desainer kain songket dan tenun Bali, Anna  mengaku menggunakan banyak motif. Ada motif tradisional Bali  ataupun motif  baru yang ditemukannya tanpa sengaja. Misalnya, “Ada satu motif yang saya buat dari bentuk makanan di Bali.  Makanan itu dari pisang yang diberi kelapa,” kata pemilik butik Marsya House of Batik Kebaya, Tenun, Songket  & Acessories  yang terletak di Pondok Indah ini.

Motif baru garapan Anna tadi kemudian ditenun dengan bahan dan benang kualitas terbaik. Kreasi warna yang  dipilihnya ada yang dibentuk dari trend warna masa kini, adapula yang dibuat dari warna-warna yang didapat dari bahan-bahan alami, seperti dari daun-daunan, kulit kayu dan lain-lain. “Warna benang  dari bahan alami  akan menghasilkan warna terakota atau warna seperti tanah liat,” kata Anna  yang dalam kesehariannnya berprofesi sebagai Konsultan Hukum dan membuka Law Firm Mariana & Partners.

Anna menyebut melihat peluang bisnis untuk kain songket dan tenun Bali selalu terbuka lebar. Baik dari dalam maupun luar negeri. “Orang luar negeri, senang dengan kain tenun dan songket, karena indah, unik dan berbeda dari kain pada umumnya. Kalau seseorang datang ke sebuah pesta dengan menggunakan kostum dari kain  tenun dan songket, pasti kehadirannya lebih memukau!” ujar Anna berpromosi. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Monday, 19 September 2016 07:51
Login to post comments