Bengkulu Siap Membuat Film tentang Ibu Fatmawati

21 November 2017

Pemerintah Daerah Bengkulu  bersama Evry Jo berencana membuat  film yang mengangkat kisah hidup Ibu Fatmawati, Ibu negara pertama dari Presiden Indonesia Soekarno. Sukmawati Soekarnoputri, puteri keempat Fatmawati, sudah memberi lampu hijau, bahwa  film itu bisa segera dikerjakan.

 

“Ide pembuatan film ini datang dari putera daerah. Saya sangat mengapresiasinya,  karena saya kira memang  sangat diperlukan film sejarah tentang riwayat hidup Fatmawati,” kata Sukmawati di Bengkulu kepada Dudut Suhendra Putra dari XposeIndonesia.

“Dan film ini akan focus hanya pada perjalanan hidup Fatmawati sebagai first lady. Tidak bercampur-campur dengan yang lain. Agar nanti benar benar focus!’ ungkap Sukma, yang nantinya akan duduk  sebagai produser.

Fatmawati = Sosok Perempuan Visioner

Banyak alasan yang membuat Pemerintah daerah Bengkulu merasa  perlu membuat film ini. Pertama Fatmawati  yang lahir di Bengkulu pada  5 Februari 1923 adalah  tokoh  perempuan penting. “Bagi kami, sosoknya adalah representasi dari perempuan Bengkulu, dan menjadi kebanggaan bukan hanya  untuk Bengkulu  tapi  juga bagi Indonesia,” tutur Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.

Masih menurut Rohidin Mersyah,  di mata masyarakat Bengkulu, Ibu Fat  bukan hanya pahlawan nasional dan isteri  Bung Karno,  tetapi juga sosok perempuan cantik,  cerdas, berperasaan halus dan tajam. Nilai nilai keperempuannnya kuat sekali. Ia tangguh dalam memperjuangkan emansipasi perempuan, selain itu ia juga tokoh agama karena Ibu Fatmawati adalah kader Nasyiatul Aisyiyah

Kata Rohidin, bagi masyarakat Bengkulu Ibu Fatmawati  adalah sosok perempuan yang sangat visioner. “Ia memiliki  visi ke depan. Pada waktu itu belum tahu kapan kita merdeka, tapi dia sudah mempersiapkan dan menjahit bendera merah putih. Kemudian dengan segala resikonya, ia membawa bendera itu  ke Jakarta. Kondisi masa itu kan sama sekali sedang tidak aman.  Catatan ini melekat kuat di hati kami  masyarakat Bengkulu.” ujar Rohidin tentang Ibu Fatmawati.

Rohidin berharap,  perjalanan hidup Ibu Fatmawati untuk difilmkan memang sebuah paket lengkap dan utuh, “Ada kisah perjuangan, emansipasi, religious, percintaan yang luar biasa.  Jika kisah hidup Fatmawati diangkat ke layar lebar, ini bisa menjadi aset negara. Filmnya bisa dilombakan ke tingkat dunia,” kata Rohidin.

Rohidin lebih jauh memaparkan, dalam soal pendanaan film, selain Pemda Bengkulu, ia  berencana melibatkan  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga Kementerian Pariwisata. “Karena kami ingin film ini menjadi milik pemerintah. Berbeda dengan  dikerjakan swasta atau private.”

Bagi sang produser, Evry Joe,  “jika film Fatmawati bisa didanai pemerintah, bisa saja nanti diupayakan untuk menjadi film yang wajib tonton bagi pelajar mulai dari SD sampai SMA. Kalau bisa sampai Universitas. Agar  mereka tahu sejarah bangsanya!”

Evry menyebut, keterlibatan keluarga  Bung Karno dalam proses penggarapan film ini sangat besar. “ Alhamdulillah, Ibu Sukma duduk sebagai produser, yang akan menemani saya. Beliau  juga akan mengawasi dan memberi arahan tentang siapa dan bagaimana sosok Fatmawati. Mulai dari cara bicara dan berpakaian. Dan memang hanya putera putri Fatmawati yang tahu betul soal ini.”

Bagi Evry Joe, film  ini merupakan film besar,  dan ia tidak bisa main-main dan harus konsekuen mengerjakannnya.  Terutama dalam hal memilih pemain  juga sutradara. “Khusus untuk  sutradara harus yang kredibel dan berprestasi. Kalau boleh saya sebut, mungkin sekelas  Mas Erros Djarot atau Garin Nugroho!” lanjut  Evry.

Evry menilai film ini  perlu dibuat. Namun ia juga realistis, “saya nyatakan kepada Pak Gubernur, kita tidak usah terburu-vuru. Tapi tetap harus dimulai. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi. Apalagi saya sebagai putera daerah,” katanya bersemangat.

Untuk membuat film  Fatmawati,  Evry menyebut memang ada tantangan yang harus dihadapi, “Tetapi sebagai penggagas film, saya akan hadapi. Karena sebagai putera daerah yang bertahun tahun berkecimpung di perfilmn nasional, untuk  membuat film komersial, film pop, sudah  biasa. Kini  saatnya  membuat film tentang Ibu bangsa, yang selalu kita hormati dan akan terus kita kenang jasa baiknya.  Dan anak-anak jaman now, tidak paham lagi tentang sejarah ini!” XPOSEINDONESIA Teks dan Foto Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Thursday, 23 November 2017 05:54
Login to post comments