Adisurya Abdi Bangun Set Khusus untuk Garap Stadhuis Schandaal

19 November 2017

Setelah 14 tahun hanya berkiprah di belakang layar dan menjadi Kepala Sinematek Indonesia, Adisurya Abdi kembali menyutradarai  sebuah film berjudul Stadhuis Schandaal.  Film  berlatar belakang setting masa kolonial  ini melakukan syukuran dimulainya produksi film di Scenic Resto & Lounge Sahid Sudirman Center, Jakarta 17/11/2017. Hadir  bersama para pemain, kru, dan juga produser dengan ditandai dengan pemotongan tumpeng.

Adisurya Abdi menyebut film memang daya tarik  utama hidupnya sejak muda.  “Sejak merantau ke Jakarta, saya bertekad akan terjun sebagai orang film. Maka sampai kapan pun saya akan tetap mencintai dunia film. Baik sebagai orang yang menjaga dokumentasi film Indonesia maupun sebagai sutradara atau pemain,” kata pria kelahiran Medan 29 Agustus 1956  yang pernah mengikuti kuliah di Akademi Sinematografi IKJ-LPKJ (1976-1978), Jakarta. Dan sempat mengambil ilmu di Advanced School for Film Directing (1986-1987) di Los Angeles, Amerika .

Dalam perjalanan krirnya di dunia film, catatan Adisurya Abdy  cukup panjang. Ia pernah menjadi pencatat skrip. Kemudian naik pangkat jadi asisten sutradara dalam Gita Cinta dari SMA (1979). Dua tahun kemudian mulai menyutradarai lewat Roman Picisan (1981). Ia kemudian menyutradari beberapa judul film Asmara, Ketika Cinta Telah Berlalu, dan Wanita. Ia pernah mendirikan Production House Asabellina pada 1990, membuat sinetron antara lain Buku Harian I sampai III (1994-1996). Kini, Abdy akan menyutradarai film berlatar belakang jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun yang lalu.

“Saya tidak membuat film sejarah. Tapi membuat film yang menggambarkan situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman colonial, yakni tentang gedung penuh skandal. Judulnya sengaja menggunakan bahasa belanda, Stadhuis Schandaal, agar penonton sejak awal mengetahui bahwa film ini memiliki latar belakang jaman belanda,” kata Adisurya

Untuk kepentingan film ini dibutuhkan setting dengan kosep artistik yang menggambarkan situasi dan kondisi jaman kolonial.  Atas pertimbangan itu kini tengah membangun sebuah set berupa tangsi dan benteng Belanda. Set khusus itu dibangun di atas tanah seluas 1.500 m2 di atas tanah milik PT Inter Studio, di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Kita sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kita lakukan, jadi lebih baik membamgun set sendiri, supaya kerjanya lebih bebas,” kata Adisurya Abdy.

Film yang akan mulai melakukan pengambilan gambar pada kawartal ketiga November 2017 ini juga  juga akan melakukan pengambilan gambar di kawasan Kota Tua Jakarta, terutama di Musium Fatahillah.

Kolonial  Bertemu Modern.

Menurut Adisurya, film ini akan menampilkan pertemuan dua kurun waktu, yakni setting jaman kolonial dan setting  hari ini (modern). Cerita dan skenario ditulis sendiri oleh Adisurya Abdy, sementara film diproduksi oleh PT. Xela Film, dengan produser Omar Jusma.

“Stadhuis Schandal”  sendiri mengisahkan seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia  bernama Fei, yang sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya. Fei punya pacar

Saat sedang mencari bahan dan riset tentang itu di kota tua, ia diperhatikan  oleh seorang gadis cantik turunan Belanda – Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama Saartje Specx  dipanggil Sarah.

Sosok Sarah menghilang dari pandangan Fei saat dering iphone membuyarkan perhatiannya akan sosok Sarah itu. Fei bertanya kemudian apakah temannya ada yang melihat Sarah namun namun temannya menjawab tidak.

Pertemuan antara Fei dan Sarah itu membuat Fei penasaran pada sosok perempuan muda cantik yang memperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis itu.

Fei meiliki pacar bernama  Chiko yang posesive. Hubungan Fei dan Chiko sedang berada pada titik terendah, karena Chiko ingin seutuhnya menguasai serta mengatur Fei. Hal itu membuat Fei menjadi terganggu dan terbebani dan perlahan tapi pasti rasa cinta dan sayangnya terhadap Chiko mulai memudar, namun Chiko tidak ingin kehilangan Fei.

Suatu hari Fei menemani ayahnya, Wisnu, seorang pengusaha, ke China.  Partner Wisnu adalah seorang pengusaha sukses China keturunan Indonesia bernama Danny Wong (40 tahun). Di Shanghai Fei mengenal Danny Wong lebih dekat, dan Fei mengetahui bahwa Ayahnya dan Danny Wong akan memaksimalkan perkebunan sawit mereka di Pulau Sumatera, sekaligus memaksimalkan pabrik pengolahan minyak sawitnya.

Danny Wong ditemani oleh Fei meninjau perkebunan sawit dan pabriknya di Sumatera. Pertemuan demi pertemuan membuat Fei dan Danny mulai semakin dekat, walau usia mereka berbeda agak jauh, namun hati mereka bicara berbeda.

Kembali ke Jakarta, Fei yang masih harus menyelesaikan tugas kampusnya, kembali bersama beberapa temannya mengunjungi kota tua Batavia sebagai pusat kajian mereka. Disana Sarah kembali muncul memandang Fei dengan senyum memikat menyenangkan. Fei merasa bahwa ada satu kekuatan sepertinya Sarah memintanya untuk mendekat. Fei tanpa sadar kakinya melangkah mendekati Sarah. Dengan senyum yang lembut tulus memikat, Sarah lalu menyentuh bagian dada Fei, dan seketika masa kini beralih kemasa lalu, persisnya Fei dibawa oleh Sarah menembus lorong waktu menuju Batavia pada tahun 1628.

Sarah adalah putri hasil hubungan gelap dari seorang Perwira Tinggi VOC bersama wanita Jepang saat Perwira Tinggi VOC itu bertugas disana. Sarah dibawa oleh ayahnya ke Batavia dan tinggal di rumah  Jan Pieterzoon Coen sang Gubernur Jenderal.

Di Batavia Sarah yang tumbuh remaja dan cantik membuat beberapa Perwira VOC baik muda maupun tua tergila – gila, namun dalam perjalanannya hati Sarah hanya tertambat kepada seorang Perwira muda VOC, salah seorang pengawal J.P. Coen yang bernama Pieter C. Pada masa - masa itu, hubungan beda ras dan beda strata tanpa ikatan perkawinan adalah sesuatu yang tabu, dan jika ketahuan maka dianggab hubungan terlarang sebagaimana perselingkuhan, dan hukumannya adalah MATI.

Chiko yang semakin merasa bahwa Fei berupaya menjauh dan menghindar darinya, tidak dapat menerima. Terlebih - lebih manakala Fei mengatakan bahwa hubungan mereka sebaiknya disudahi dan putus. Chiko mulai kelihatan perangai aslinya yang tidak baik, dan memang sesungguhnya selain childish, Chiko tanpa diketahui oleh teman – teman kampusnya adalah bagian dari sindikat yang seringkali memeras banyak perusahaan. Dengan kata lain Chiko adalah anggota dari sindikat Cyber Crime.

Sederetan pemain sudah disiapkan. Mereka antara lain  Tara Adia (Saartje Spech / Sarah), Michale Lee (Pieter Cortenhoff), Amanda Rigbi (Fei), Rensi Millano (Samina), Volland Humonggo (Danny Wong), George M Taka (JP Coen), Roweina Umboh (Eva Mert), Iwan Burnani (Jaques Spech), Septian Dwicahyo (Hans), Lady Salsabila (Mila), Stephanie Adi (Rika), Ati Cancer (Bibi), Bangkit Sanjaya (Pelayan misterius), Kiki Amalia (Via), Anwar Fuadi (Abimanyu), Yanto Tampan (Anak buah Hans), Cindy (Tasya), Andika Ariesta (Aby), Iqbal (Rayman), Ricky Wala (Babam)  XPOSEINDONESIA/NS Foto : Herman Wijaya

More Pictures

Last modified on Monday, 20 November 2017 00:25
Login to post comments