Film Satria :Mengakat Banyumas dalam Film

27 September 2017

Mengangkat budaya lokal ke dalam film sejak lama sudah dilakukan sineas kita. Ada beberapa film   yang meraup sukses  dan  memberi dampak  ekonomi juga pariwisata pada daerah tertentu. Lihat “Laskar Pelangi”  yang hingga kini membawa perubahan ekonomi dan pariwisata di Bangka Belitung. Atau  “Uang Panai” asal Makassar yang mencapai raihan penonton sekitar 500 ribu orang.

 

Ralia Pictures dan Gula Kelapa Pictures  melihat peluang yang sama. Mereka menggandeng Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Kwarcab Banyumas,  untuk memproduksi film 'Satria' yang bermuatan kearifan local . Dan produksi film mendapat dukungan langsung dari Bupati Banyumas Achmad Husein.

Sebagai daerah yang juga memiliki destinasi wisata, Pemerintah Kabupaten Banyumas memandang perlu adanya film yang bisa menjadi sarana promosi tentang sosial budaya dan wisata. “Kami berharap film Satria bisa menjadi sarana promosi sosial budaya dan wisata kabupaten Banyumas. Sehingga nantinya kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara terus meningkat," timpal Bupati Banyumas Ahmad Husein  yang hadir dalam Media Gathering di Pallas Café, Senayan Jakarta (26/09).

Eksekutif Produser, Jaka T Alfiandar menyebut jika film Satria sangat dibutuhkan Indonesia saat ini. Apalagi, cerita yang disampaikan begitu menarik. Menceritakan tentang perjuangan, persahabatan dan pengorbanan serta kearifan lokal Banyuwangi. "Ini sangat dibutuhkan untuk Indonesia dalam segala upaya permasalahannya. Cerita seorang pejuang veteran Indonesia yang mendidik, memberikan kerendahan hati untuk penerus generasinya," ujar Jaka.

Film “Satria”  yang disutradarai Jito Banyu akan memulai syuting pada November mendatang. Film ini dibintangi Yama Carlos, Rianti Catwright, Jajang C Noer, Melayu Nicole, Elvira Devinamira, Pong Harjatmo, Pangky Suwito, Naomi Ivo, dan Erica Carl.

Film Satria akan berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Satria (Yama Carlos) yang lahir saat bencana longsor di Banyumas. Kedua orang tuanya meninggal dunia sehingga membuatnya harus diasuh oleh neneknya.

Satria tumbuh menjadi pemuda gagah berani yang memiliki jiwa patriotisme. Dia berprestasi dan menjadi seorang mahasiswa kampus negeri ternama yakni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Skill yang dimilikinya mengantarkannya bergabung dengan SAR untuk menyelamatkan penduduk yang terkena bencana di wilayah Banyumas dan sekitarnya.

Jito Banyu  berjanji akan menggarap film ini secara maksimal. “Sebagai putera daerah, tentu saya akan menghadirkan film yang membawa misi budaya Banyumas dan memberi edukasi buat penonton. Saya berharap setelah menonton film ini, penonton  akan makin memahami arti kerja keras, perjuangan dan perbuatan untuk mencapai sukses. Dan yang lebih penting lagi, generasi milenial bisa menghargai perjuangan para pahlawan nasional asli Banyuman,” kata Sutradara yang sukses menggarap film ‘Angeline dan Psikopat’ XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Putra

More Pictures


 




Last modified on Wednesday, 27 September 2017 07:40
Login to post comments