Akhlis Suryapati Garap Film "Enak Tho Zamanku, Piye Kabare?"

15 August 2017

Setelah menyutradarai film pertamanya "Lari Dari Blora"  pada 2007 lalu,  Akhlis Suryapati Dasimun  pada tahun ini kembali menggarap film lewat PT Midesa Pictures yang diberi judul  "Enak Tho Zamanku, Piye Kabare?" (ETZPK?).  Judul ini memang mengingatkan pada kalimat satire yang belakangan viral lewat social media maupun tulisan di T-Shirt dengan tambahan  foto Presiden RI Ke 2 Soeharto.

 

Menurut Akhlis, judul film memang mengambil idiom atau frasa yang identik dengan sosok Soeharto tokoh Orde Baru. Tapi ia menampik film ini menjadi sketsa  kehidupan Pak Harto.

“Ini bukan cerita tentang Pak Harto.  Tetapi ada filosofi beliau yang muncul dalam film ini. Yang menafsirkan judul film "Enak Tho Zamanku, Piye Kabare?" adalah tentang Orde Baru, silakan. Ada yang bilang didanai keluarga Cendana dan lain-lain, tidak apa-apa. Film ini memang dibuat dengan konsep multi tafsir," jelas Akhlis dalam perjumpaan dengan sejumlah media dari Jakarta di saat syuting hari pertama film ini di hotel Flamingo, Indramayu.

Sejumlah artis pemeran film dilibatkan di film dram satire multi tafsir ini, antara lain Soultan Saladin, Ismi Melinda, Otig Pakis, Ratu Erina, Dolly Marten, dan belasan pemeran figuran. Dan yang  tak terduga,  yang meresmikan pengambilan gambar pertama  sekaligus melakukan pemotongan tumpeng adalah mantan Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Tedjo Edhy Purdijanto mendampingi produser Sonny Pudjosasono.

"Kita dukung film yang berupaya memberi nilai pendidikan," kata Tedjo Edhy sambil memotong nasi tumpeng simbol dimulainya syuting.

Nilai 'pendidikan' yang dimaksud Tedjo Edhy adalah film yang bisa menggugah rasa kebangsaan penonton untuk lebih mencintai tanah air.
"Tentu tidak mudah membuat film bernilai pendidikan. Perlu strategi untuk membuat film tanpa disadari penonton, dan tetap menghibur," jelas Tedjo yang mengaku sering nonton film Indonesia.

Akhlis mengaku rencana memproduksi ETZPK? sudah disimpan cukup lama, dan mendapat respons dari banyak pihak, termasuk dari produser Sonny.
“Persiapan produksi relatif cepat dibanding persiapan film pertama saya yang dulu. Karena kita ingin memaksimalkan budget," kata Akhlis yang selain berperan sebagai sutradara juga turun menulis cerita. Di luar itu, Kreativa Art, rumah produksi miliknya juga menaruh saham di film ini. “Tapi secara teknis, film ini jauh lebih baik. Apalagi untuk menggambilan gambar menggunakan kamera dengan kualitas 4K.”

ETZPK yang digarap dengan menggabungkan drama, action, dan komedi  ini menurut rencana akan menjalankan syuting sepanjang 15 hari  di Indramayu. "Film ini bisa dibuat dimana saja, tapi kami merasa lebih efektif mengambil lokasi di Indramayu," jelas Akhlis tentang dipilihnya kota di pantai utara Jawa Barat tersebut.

Selain itu, karena tidak ada setting waktu dan tempat. "Setiap pemeran berdialog dengan dialek masing-masing tanpa dibuat-buat," kata Akhlis yang juga Ketua Sekretariat Nasional Kine Klub Seluruh Indonesia (Senakki). XPOSEINDONESIA/NS Laporan dan Foto Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Tuesday, 15 August 2017 05:08
Login to post comments