Film ‘Lima’ : Lola Amaria Cs Menerjemahkan Pancasila dengan Cemerlang

28 May 2018

Film ‘‘Lima’” adalah sebuah film tentang bagaimana mengamalkan Pancasila, yang sama sekali tak terkesan menggurui.  Ia berjalan ringan, menggugat, menggugah nurani sekaligus menyentuh haru. Sebuah film drama yang sesungguhnya  layak untuk usia 13 tahun ke atas (bukan 17 tahun  seperti rekomendasi Lembaga Sensor Film). Terlebih di tengah kondisi Indonesia yang terkesan tengah menolak  keberagaman.

Uniknya, sebagai sutradara Lola Amaria mengerjakan film ini tak sendirian, melainkan bersama empat sutradara  lain yakni Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Adriyanto Dewo dan Harvan Agustriansyah. Sebuah kolaborasi unik dan langka, di atas tema yang  sangat jenius dan hebat. Sebuah tema yang cenderung dianggap sulit dan terkesan menjadi dokumenter dan bakal miskin drama jika tidak dikerjakan dengan hati.

Film dibuka  dengan kisah  ‘berat’ dan menyentuh.  Adalah tiga bersaudara  Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama) dan Adi  (Baskara Mahendra ) yang baru ditinggal wafat oleh sang Ibu (Tri Budiman). Di tengah kesedihan, ketiga anak  tersebut berdebat tentang proses pemakaman ibunya, karena masing-masing dari mereka memiliki agama yang berbeda dengan sang ibu yang Islam.

Dalam Islam,  ketika diadakan pemakaman orang tua, anak lelaki yang tertua akan turun ke liang lahat untuk menyambut mayat  disatukan dengan bumi. Lantas bisakah  Aryo  yang menganut Kristen turun ke liang lahat untuk mengebumikan ibunya yang muslim?  “Tidak bisa,” ungkap kerabat  sang Ibu yang berbusana musilmah, dengan tegas dan berdiri  di kepala makam.

Namun Fara tetap memaksa adiknya turun ke  dalam liang lahat. “Biar kami yang menanggung dosanya!” katanya pelan dan tegas.

Bukan cuma itu, Fara juga mengizinkan kerabat ayah mereka yang beragama lain untuk berdoa dengan cara mereka.  Jadilah sekumpulan kerabat  bernyanyi lagu Kristiani di tengah pemakaman Islam.

Ini jelas sebuah pemandangan yang mengharukan, di mana keberadaan Tuhan  (dalam hal ini  pengamalan sila pertama dari Pancasila diterjemahkan film ini dengan sangat  menusuk kalbu.

Film ’Lima’  memang diniatkan Lola Amaria untuk mengangkat cerita yang terkait erat dengan nilai-nilai Pancasila. “Setiap satu sila digarap oleh seorang sutradara, lalu dibungkus menjadi cerita yang menarik untuk ditonton. Dari film itu kita berharap semua orang bisa berperilaku kembali ke nilai-nilai di semua sila yang terkandung di sana," ucap Lola usai press screening ‘‘Lima’’ di XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (24/5).

“Sebenarnya  jika ke lima sila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, nggak akan ada hal negatif seperti yang kita lihat akhir-akhir ini," sambungnya.

Film  kemudian berjalan secara perlahan, ringan  namun menusuk-nusuk  nurani, Misalnya, ketika sebagai pelatih renang, Fara harus tetap bisa profesional dalam memilih atlit  untuk diikutkan ke acara lomba. Ia harus bisa profesional memilih, bukan berdasarkan keinginan pemilik klub, juga bukan beradasarkan ras. Melainkan berdasarkan kecakapan.

Sementara kisah Aryo tak kalah pelik. Setelah didepak oleh rekan bisnisnya, Aryo dihadapkan pada masalah bagaimana memulai bisnis baru, di tengah kenyataan ia dan saudara-saudaranya mendadak menerima warisan yang ditinggalkan ibunya.

Sedangkan Adi, yang masih labil  melihat dengan mata kepala sendiri kejadian tidak adil di sekolah. Niat ingin membantu dan menegakkan keadilan, membuat Adi harus berurusan dengan Dega, teman sekolahnya yang kerap melakukan persekusi kepada setiap siswa sekolah.

Di tengah itu, ada pula peran pembantu rumah tangga mereka, yang menjadi penguat kisah ‘Lima’  semangkin lengkap.  Berbagai pilihan rumit harus dibuat tiga anak bersama pembantu rumah tangga mereka . Sebuah fondasi keluarga yang ditanamkan sejak dahulu kala menjadi inti cerita. Yakni ‘Lima’ sila dalam Pancasila,  yakni tentang Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan.

Lantas apakah lima dasar ini bisa mengubah kehidupan mereka lebih baik? Jawabannya tontonlah film ‘‘Lima’” yang akan tayang di bioskop mulai tanggal 31 Mei 2018. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Dudut Suhendra Puutra

More Pictures

Last modified on Monday, 28 May 2018 08:56
Login to post comments

Film

June 11, 2018 0

Film Target Tontonan Libur Lebaran 2018

Soraya Intercine Films, Sabtu (9/6/2018) menggelar gala...
May 28, 2018 0

Film ‘Lima’ : Lola Amaria Cs Menerjemahkan Pancasila dengan Cemerlang

Film ‘‘Lima’” adalah sebuah film tentang bagaimana...
May 12, 2018 0

Film Zeta : Zombie Pertama di Indonesia.

Ini film tentang zombie yang sangat berbeda dari film...
May 11, 2018 0

Film "Anak Negeri Megalith" Sebar Bea Siswa untuk 68 Orang

Rumah produksi Benning Pictures menghadirkan film bertajuk...