Wage Proses kreatif ‘Indonesia Raya’ 3 Stanza

03 November 2017

Wage atau Wage Rudolf Supratman, biasa ditulis WR Supratman pencipta lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ternyata bukan sekadar pencipta lagu, tapi juga pelaku sejarah yang ikut mempersiapkan kemerdekaan Indonesia sejak Soempah Pemoeda sampai berjasa menciptakan lagu ‘Indonesia Raya’ 3 stanza.

Adalah sutradara John de Rantau yang untuk pertamakalinya mengangkat petualangan pejuang WR Supratman ini ke dalam jagad sinema, “Meski puluhan tahun yang lalu, pernah ada upaya mengangkat cerita perjuangan WR Supratman, tapi dianggap lebih penting menggarap film Pengkhianatan G30S PKI dIbanding WR Supratman,” kata seorang sejarahwan.

Mengaku puasa menggarap film sepanjang 5 tahun, John de-Rantau konsentrasi mempersiapkan Wage, dengan segala daya upaya, tidak mau menjadi tax book, tapi juga melakukan riset, terlibat dalam mencari pemain, sampai membidik teman musisi buat berkongsi sebagai illustrator musik film. Dan itu bukan pekerjaan mudah, megingat WR Supratman dalam buku sejarah adalah tokoh yang hitam putihnya sekadar sebagai pencipta lagu, bahkan tempat lahirnya pun yang pada buku sejarah di Jatinegara, pada film Wage, diceritakan WR Supratman lahir di  sebuah desa di kota Purworejo, Jawa Tengah, juga masih tanda tanya, apakah WR Supratman memiliki isteri atau belum menikah,

“Jadi film Wage ini sekaligus ingin meluruskan sejarah perjuangan anak muda yang mencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya pada usia 24 tahun, dan meninggal dunia dalam usia yang sangat kuda, 35 tahun, “ masih kata John de Rantau….

Imajinasi Sutradara & Proses kreatif ‘Indonesia Raya’ 3 Stanza

Film Wage bercerita tentang perjuangan anak muda berbakat musik, khususnya main biola dan mencipta lagu sekaligus bertalar belakang wartawan. Karya karya lagu Wage mencerminkan tentang ambsinya untuk membawa rakyat Indonesia merdeka dari penjajahan Belenda.

Diceritakan tentang keterlibatan Wage pada Kongres Pemoeda 1928 yang melahirkan Soempah Pemoeda, pada saat penutupan Kongres Pemoeda itulah, untuk pertamakalinya lagu Indonesia Raya dimainkan, meski hanya dengan gesekan biola Wage, sementara teks liriknya sudah lebih dulu beredar di lingkungan muda mudi pejuang.

Wage adalah Wage Rudolf Supratman, biasa ditulis WR Supratman ternyata bukan sekadar pencipta lagu, tapi juga pelaku sejarah yang ikut mempersiapkan kemerdekaan Indonesia sejak Soempah Pemoeda dan menciptakan lagu ‘Indonesia Raya’ 3 stanza.

Diceritakan tentang keterlibatan Wage pada Kongres Pemoeda 1928 yang melahirkan Soempah Pemoeda. Pada saat penutupan Kongres Pemoeda itulah, untuk pertamakalinya lagu Indonesia Raya dimainkan, meski hanya dengan biola Wage, sementara teks liriknya sudah lebih dulu beredar di lingkungan muda mudi pejuang. Juga digambarkan pada awalnya Indonesia Raya tidak mencantumkan kata ‘merdeka’, tapi ‘moelia'.

Menurut Sukmawati, yang hadir dalam ‘Diskusi Film Wage’, kata 'Merdeka’ merupakan ide Bung Karno. Tapi, Indonesia Raya yang ditampilkan saat itu adalah Indonesia Raya 3 stanza dan digarap dalam 2 versi, yakni versi orisinal aransemen WR Supratman dan versi keroncong yang dianggap mewakili ‘kepribadian Indonesia’ saat itu.....

John de Rantau menggambarkan, Wage (diperankan Rendra Bagus Pamungkas) bekerja keras menulis lirik, melodi lagu Indonesia Raya, beberapa kali merobek kertas yang sudah bertuliskan teks lirik, dan menggantikannya dengan kata kata baru, lalu memainkannya dengan biola. Juga digambarkan, melodi lagu Indonesia Raya ditemukan melalui ‘nada-nada yang lahir dari tukang pandai besi’ yang sedang membuat pisau atau keris dari potongan besi yang dibakar dan dipukul dengan palu.

Untuk menguatkan cerita kepahlawanan Wage digambarkan melalui scene adanya konflik frontal WR Supratman dengan tokoh  reserse Polisi blasteran Indonesia Belanda bernama Fritz (Teuku Rifnu Wikana), pada bagian ini dan dialog yang ketat antara Fritz dengan petugas keamanan Belanda, kekuatan akting Rendra dan Rifnu benar-benar diuji, bahkan pengucapan bahasa Belanda Rifnu Wikana  bagus sekali. Film Wage sekaligus ingin menggambarkan perbedaan persepsi pengabdian anak muda yang berdarah Indonesia.

Karena tahun 1928 negara Republik Indonesia belum berdiri dan pemerintah yang sah adalah HindiaBelanda, jadi menurut Rifnu Wikana, Fritz bukan ‘tokoh antagonis’, karena sebagai reserse Hindia Belanda, Fritz ingin menegakkan keamanan, karena itulah ia sempat menjebloskan Wage ke penjara, dengan lebih dulu mengobrak abrik kantor koran dan percetakan tempat Wage berjuang melalui tulisan...

Film Wage juga didukung oleh Putri Ayudya, Prisia Nasution, Wouter Zweers, Ricky Malau, vokalis rock Ecky Lamoh, aktor teater Bram Makahekum dan sejumlah aktir aktris lain, dengan Produser Andy Shafik.

Mencari Partner yang ‘Liar’

Dalam diskusi kecil tentang film Wage terungkap beberapa hal yang dikritisi narasumber, Sukmawati Soekarno misalnya mempertanyakan jam tangan yang dipakai pemeran utama seperti jam tangan merek Rolex, atau kostum pemain yang ‘terlihat baru’.


Sementara kritikus film Salim Said menganggap durasi film Wage yang sampai 127 menit terlalu panjang,. “Idealnya seputar satu setengah jam,“ kata pengamat militer dan mantan Dubes RI di Praha itu. Tapi, mengingat Wage adalah film yang mengungkap sejarah, bahkan meluruskan sejarah, bisa dimengerti jika John de Rantau akan kesulitan untuk memperpendek gaya berceritanya lewat layar lebar.

Catatan tambahan, Rendra Bagus Pamungkas (kelahiran Kediri, 21 Maret 1984) adalah lulusan ISI Fakultas Seni Pertunjukan,  baru pertama kali ini main film, dan sebagai pemain utama Wage, ia sama sekali tidak bisa main biola. Teuku Rifnu Wikana (Pematang Siantar, 3 Agustus 1980) sudah bermain di 42 judul film, namanya meroket melalui Laskar Pelangi (2008) dan pernah memerankan Joko Widodo dalam film Jokowi (2013). Sutradara Jonh de Rantaun (Padang, 2 Januari 1970) pernah merebut Piala Citra di FFI 2006 sebagai Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, Wage adalah film pertamanya yang berlatar belakang sejarah.

Satu yang harus dipuji, pilihan John de Rantau pada Indra Qadarsih, mantan keyboardist Slank – yang bersama Executive Producer Subchi Azal Tsani  menjaga ritme film pada bagian musik, atau film scoring, “Saya memilih bekerjasama dengan Indra Qadarsih untuk peran film scoring, karena kami berdua sama-sama liarnya, satu visi dalam menangani film sejarah macam Wage,” penjelasann John.

Bagi Indra Q, ini adalah film ke 20 yang musiknya ia garap, “Tapi Wage merupakan pekerjaan yang paling merdeka, ide saya dan sutradara pas banget. Tantangannya adalah, cerita WR Supratman itu sendiri, dia kan komposer dan pejuang dan peristiwanya terjadi sebelum Indonesia merdeka, dan di Jawa," kata Indra. Karena itulah sesekali bisa kita dengar juga tembang Jawa sebagai bagian dari musik filmnya. XPOSEINDONESIA -Bens Leo, Foto Muhamad Ihsan

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

More Pictures

Last modified on Tuesday, 07 November 2017 04:45
Login to post comments

Film

November 19, 2017 0

Bagiono Prabowo Raih Gelar dari Brazil dan Kutai

Ketua Umum Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo)...
November 16, 2017 0

Satu Hari Nanti : Mencari Esensi Cinta & Kehidupan

Rumah Film bersama dengan Evergreen Pictures memproduksi...
November 13, 2017 0

Deddy Corbuzier Nyanyi untuk Soundtrack Film Knight Kris

Sebuah film animasi baru bertajuk Knight Kris  bakal...
November 3, 2017 0

Wage Proses kreatif ‘Indonesia Raya’ 3 Stanza

Wage atau Wage Rudolf Supratman, biasa ditulis WR...