Film Posesif : Ketika Cinta Mengikat dan Menyakiti

13 October 2017

Posesif dalam hubungan percintaan awalnya dirasa wajar. Tapi jika dibiarkan berlarut, sikap posesif akan membuat sebuah hubungan berubah menjadi tidak menyenangkan. Terlebih jika mulai masuk area di mana salah satu pasangan berupaya sangat mendominasi dan mulai main tangan.

Soal inilah yang menjadi cerita kuat dalam film  'Posesif' yang disutradarai Edwin , ditulis oleh Gina S Noer  dan dibintangi  Adipati Dolken  (Yudhis) dan Putri Marino (Lala), Yayu Unru (ayah Lala), Cut Mini (Ibu Yudhis).

Film produksi  perdana Palari Films   yang diproduseri Muhamad Zaidy dan Meiske Taurisia  ini  memperlihatkan  Posesif bukan hanya terjadi pada pasangan utama  yang tengah jatuh cinta dalam film ini, melainkan juga dalam tindakan orang tua yang ada di wilayah terdekat  mereka.

Posesif  membuka  cerita tentang Yudhis dan Lala, dua siswa SMU yang saling jatuh cinta. Lala sedang giat berjuang menjadi atlet loncat indah sedangkan Yudhis merupakan murid baru di sekolah. Keduanya lalu berpacaran. Janji setia Lala untuk Yudhis kemudian menjadi jebakan karena cinta Yudhis yang awalnya sederhana dan melindungi ternyata rumit juga berbahaya.

Film yang didominasi dengan lagu "Dan" karya Sheila on 7,  di awal keduanyanya  mabuk cinta, memperlihatkan hubungan cinta yang manis  berkembang jadi penuh ketegangan.

Karakter Yudhis sendiri digambarkan sebagai seorang yang merasa takut kehilangan sang kekasih, yang terkesan berlebihan. Adipati pun mengakui kadar posesif yang diperaninya sangat dalam “Posesifnya deep. Dan itu jadi tantangan buat acting gue," ujar Adipati dalam press screening dan press conference film Studio 2 XXI Senayan City

Sang sutradara, Edwin,  menyebut sejak lama ia memang ingin membuat film remaja yang berbeda. “Saya ingin menampilkan realita remaja yang merespon rasa cinta dan kepemilikan secara rancu, sementara kontrol diri masih sulir. Ini bisa mengerikan!” ungkap Edwin yang sebelumnya mengarahkan film-film arthouse seperti Babi Buta yang Ingin Terbang

Menurut  sang Produser Meiske  Taurisia, riset mendalam dilakukan sebelum film diproduksi. Dan  hasil riset memperlihatkan fenomena pacaran di kalangan remaja yang seolah, kalau sudah pacaran, salah satu dari mereka berhak mengontrol pasangan sepenuhnya. “Banyak dari mereka  merasa bahwa ‘rasa kepemilikan’ adalah aktualisasi cinta,” ungkap Meiske.

Dari melihat kondisi inilah,  Mieske mengaku tertantang mengangkat persoalan yang dekat dengan dunia remaja  ini. "Ada yang punya obsesi 'ngebenerin' pasangannya sehingga selalu memaafkan sebagai tanda kesetiaan," jelasnya.

Lantas bagaimana akhir kisah cinta Yudish dan Lala? Siapa yang paling dominan dalam menguasai? Akankah cinta mereka langgeng dan bisa dipertahankan meski hati dan fisik sering terluka?  Ada baiknya saksikan sendiri di bioskop mulai 26 Oktober 2017.

Yang pasti, film mereka  bergenre "romance suspense" ini  menyuguhkan lagu-lagu bagus dari banyak nama tenar, di antaranya  Dipha Barus bersama Kallula, Afternoon Talk, Matter Halo dengan Nadin, Gardika Gigih, Banda Neira, hingga Pagi Tadi. XPOSEINDONESIA/NS Foto : Muhamad Ihsan

More Pictures

Last modified on Friday, 13 October 2017 11:34
Login to post comments

Film

October 13, 2017 0

Film Posesif : Ketika Cinta Mengikat dan Menyakiti

Posesif dalam hubungan percintaan awalnya dirasa wajar....
September 17, 2017 0

Ferry Ngebet Nonton Film Chrisye

Ferry Mursyidan Baldan hadir dalam press conference untuk...
September 15, 2017 0

Livi Zheng Garap Dua Film Pendek BRI Life

Sutradara muda Indonesia, Livi Zheng menggarap dua film...
August 22, 2017 0

Dengan Sistem Yang Diperbaharui, Malam Puncak FFI 2017 Digelar di Menado

Panitia Festival Film Indonesia (FFI)  telah mengumunkan...