Terompet Kertas yang Tergusur Zaman

30 December 2017

Di setiap penghujung tahun,  selalu muncul penjual terompet kertas handmade yang  dijaja di  pinggir jalan Jakarta. Tengok misalnya di kawasan  Hang Lekir Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, di dua minggu terakhir Desember, biasanya selalu berjajar beberapa pedagang terompet handmade  yang memajang dagangan  hingga  ke Jalan Sambas Barito, Jakarta Selatan.

 

Namun kini,   di ujung Desember 2017 ini,   kawasan Hang lekir hingga ujung Hang  Tuah tak terlihat lagi pedagang menjaja terompet kertas. “Dagang  di situ mulai sepi, Pak. Kayaknya sekarang orang maunya beli terompet pabrikan, bukan terompet kertas kayak gini,” ujar Pak Gimin  (55 tahun) yang menggelar dagangan di trotoar Jalan Sambas II,  Barito Kebayoran Baru.

Terompet kertas buatan Gimin  dikreasikan dari karton yang dipadu dengan berbagai benda daur ulang, ada gelas platik, botol minuman plastik,  kemudian ditambah tempelan kertas warna warni dan yang mengkilat. “Terompet pabrik bunyinya lebih keras, emang beda sih dengan  yang saya bikin !” katanya memuji keunggulan pabrikan.

Meski tak lagi banyak peminat yang membeli terompet kertas, Gimin  tak patah semangat. Ia dan isterinya,  Rion (45 tahun)  terus berupaya membuat sekaligus menjaja karyanya. Karena hanya  inilah pekerjaan yang dikuasai dan dihafalnya setelah bertahun-tahun.  Setiap  menjelang tutup tahun, Gimin mengaku bisa membuat puluhan hingga ratusan  terompet dengan harga jual bervariasi. Yang sederhana dibandrol  seharga Rp 10.000 –  Rp 50.000, tapi ada juga yang dijaja seharga Rp 250.000, terutama untuk  terompet besar dan model meliuk-liuk. Selain terompet, Gimin juga menjual barang-keperluan pesta tahun baru,seperti topi-topi unik.

Karena itulah Gimin dan isteri rela  mangkal  berdagang di Jalan Sambas Barito, dan sepanjang dua minggu tak pulang ke rumahnya di Bekasi. “ Kalau bolak balik pulang ongkosnya terlalu mahal. Mending nanti pulangnya pas tanggal 2 Januari, sehabis tahun baru,” kata Gimin polos. 

Lantas bagaimana kalau terompetnya tidak laku?  “Kalau terompet yang murah terpaksa dibakar. Kalau disimpan nanti jamuran, apalagi lagian tidak ada gudang  menampung semua ini!” katanya pasrah dengan mata menerawang. XPOSEINDONESIA Teks dan Foto  Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Saturday, 30 December 2017 11:45
Login to post comments