Anna Mariana Berjuang Menaklukkan UNESCO

12 March 2017

Desainer Tenun, Anna Mariana membawa dua penenun wanita dari Bali yakni Ketut  Puriani dan Wayan Ceprit untuk tampil di “Sapa Indonesia Pagi, Kompas TV”, 11 Maret 2017.    “Ini untuk memperlihatkan kepada penonton,  proses menenun tidak mudah. Harus bisa membuat singkronisasi gerakan kaki dan kedua tangan yang memegang alat tenun.  Butuh kemauan, kerja keras juga keahlian khusus,” ungkap Anna Mariana yang pagi itu didampingi nara sumber lain dari Bali yakni Nyoman Sudire (pengusaha dan pembina) dan Agung Tirta Rai (designer tenun) tampil di studio Kompas TV, Palmerah Barat Jakarta.

Selembar kain Tenun dan Songket yang cantik, diolah dengan durasi kerja yang panjang, bahkan sampai berbulan-bulan. “Paling cepat satu bulan, paling lama enam bulan atau bahkan bisa sampai setahun. Di hasil kerja itu terdapat identitas bangsa yang perlu terus menerus  dilestarikan,” ujar Anna Mariana, kelahiran 1 Januari 1960.

Mendapat kesempatan sepanjang 20 menit untuk tampil secara live, dimanfaatkan Anna untuk menjelaskan  proses kreatif  Tenun dan Songket yang sedang diperjuangkannya untuk bisa diterima UNESCO sama seperti posisi kain Batik,  yang dimasukan dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) 

“Kami sedang memperjuangkan itu. Kami juga sedang memperjuangkan agar ada hari pemakaian Tenun di instansi pemerintah maupun swasta sama dengan hari pemakaian Batik. Semoga Pemerintah Indonesia melihat  dan membantu, karena  upaya  kami  ini adalah dalam rangka pelestarian budaya bangsa,” lanjut Anna.

Di tengah wawancara, Anna juga menjelaskan adanya perbedaan mendasar dari kain songket jaman dulu dengan hari ini. Di jaman dulu,  kain songket terasa tebal dan berat dan hanya bisa digunakan untuk acara-acara pernikahan maupun adat.

“Kini, justru kain songket terasa lebih ringan dan mudah untuk digunakan, karena  kualitas benang yang digunakan memang berbeda. Kebanyakan kain tenun sekarang dibuat dari benang katun dan sutera!” ungkap Anna yang sempat secara live mendadani penyiar Dita mengenakan tenun dibentuk menjadi seperti rok. “Hebat. Ini tanpa  peniti maupun jarum loh!” ujar Dita kagum.

Menjawab pertanyaan dari Feliciano dan Dita, Anna  mengaku sangat percaya diri dengan kualitas kain-kain produksi binaannya. “Kain kreasi saya sudah diekspor ke  manca negara. Malah khusus untuk Dubai dan  Jeddah  baju – baju bermodel Gamis di sana biasanya cuma berwarna hitam, kini pakai tenun kreasi kain saya yang berwarna terang,” ungkap Anna yang sempat memberikan kain tenun khusus untuk Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Saudi Arabia  ketika  beliau berkunjung ke Bali.

Selain fokus memproduksi tenun dan melakukan pengembangan motif  baru seperti mengeluarkan seri baru untuk Tenun Betawi yang dilaunching Januari lalu, Anna mengaku juga menaruh kepedulian penuh terhadap  pengembangan regenerasi penenun.

“Regenerasi penenun itu penting. Jangan sampai produk tradisonal ini  punah hanya gara-gara tidak ada regenerasi. Saya ikut mengembangkan dan lahirnya generassi baru, mereka ini adalah anak-anak pesantren, anak putus sekolah. Kita memberdayakan tenaga dan kreativitas mereka, sambil juga memberikan penghasilan bagi mereka!” XPOSEINDONESIA/NS Foto: Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Sunday, 12 March 2017 08:57
Login to post comments