Idri Sardi : "Jangan Panggil Saya Om!"

28 April 2014
Idris Sardi di sela acara press preview film "Hasduk Berpola". Foto XPOSEINDOENSIA Dudut Suhendra Putra Idris Sardi di sela acara press preview film "Hasduk Berpola". Foto XPOSEINDOENSIA Dudut Suhendra Putra

 

“Jangan panggil saya Om, panggil saya Mas,” begitu kata Idris Sardi ramah namun terkesan tegas, ketika diwawancarai sejumlah wartawan termasuk XPOSEINDONESIA, di sela acara press priview film “Hasduk Berpola”, suatu hari di bulan Mei 2013. 

Permintaan itu berulang kali diungkapkan Idris,  terutama ketika para wartawan muda yang mengelilinginya tanpa sengaja selalu menggunakan kata Om ketimbang Mas. “Saya ini masih muda loh, baru 74 tahun!’ ucapnya bangga menyebut usianya hari itu.

Idris pun, ketika itu bukan hanya bersemangat menceritakan  perannya sebagai orang miskin yang jujur dalam  film “Hasduk Berpola”, namun juga mengisahkan perjalanan kariernya pada wartawan muda, yang berbeda usia hampir 40 tahun darinya. 

“Jangan sebut saya maestro hebat. Karena yang hebat itu hanya Allah SWT. Dia menciptakan langit dan bumi juga menciptakan kita sebagai mahluk paling sempurna,” ungkap Idris blak blakan, menjawab pertanyaan seorang wartawan, tentang julukan maestro untuknya. 

“Adalah kesombongan besar dan sangat takabur, jika ada seseorang yang mengaku hebat karena dirinya sendiri. Sampai kini, tiap kali memainkan biola, saya merasa bukan saya yang memainkannya, tapi murni datang dan digerakan Allah SWT!” ungkapnya  dengan penuh syukur. Dari jawaban ini, terkesan semakin bertambah umur, Idris Sardi semakin  bijak sekaligus dekat dengan Tuhannya, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Dan ketika Senin, 28 April 2014, pukul 07.20 WIB, Idris Sardi berpulang dalam usia  75 tahun (7 Juni 1938-28 April 2014), pernyataan Idris Sardi yang tegas dan blak-blakan itu terngiang kembali. Bukan hanya XPOSEINDONESIA yang menyimpan kesan mendalam terhadap almarhum. Sejumlah musisi dan rekan kerja yang pernah bekerja sama memiliki kesan berbeda. 

Seperti kata vokalis kelompok Gigi, Armand Maulana  “Sebagai seorang seniman,  Idris Sardi  memiliki pribadi tegas, disiplin dan bersemangat. Kami sering bertemu di beberapa pagelaran dan acara penghargaan." kata Armand di sela pemakaman sang maestro di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Senin (28/4).

"Dan yang jelas Om Idris itu keras dalam memegang prinsip bahwa musisi itu harus dihormati. Budjana pernah cerita, di sebuah acara Om Idris pernah ngamuk karena musisi dikasih nasi bungkus sementara para tamu makan di table," kenang Armand. "Om Idris menginginkan musisi itu diperlakukan sama, kalau Anda undang saya artinya kalian butuh saya."

Kenangan lain muncul dari Fadli Zon, penulis buku biografi  "Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia".  “Beliau adalah seorang tokoh musik Indonesia yang perfeksionis dan saya kira sampai saat ini tidak ada gantinya,” ungkapnya  dengan serius.

Jauh hari sebelum mengalami kritis akibat penyakit asam lambung serta lever dan akhirnya wafat, Idris Sardi sempat merilis buku ini. Dan Fadli Zon menggarapnya melalui serangkaian wawancara yang dilakukan dalam berbagai kesempatan saat bersilaturahmi dengan almarhum. “Saya merasa kehilangan. Beliau adalah maestro musik nasional yang telah mewarnai dunia permusikan Tanah Air,” ujar Fadli lagi. 

Dari buku ini terkuat karya Idris Sardi yang sangat luar biasa. Terutama dalam sejarah Indonesia. Ia pernah bertemu dan mendapat penugasan dari Bung Karno ketika berlangsungnya Operasi Trikora pada 1962. Ia juga mendapatkan penghargaan Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik. Antara lain, lewat film  "Pengantin Remaja" (1971), "Perkawinan" (1973), "Cinta Pertama" (1974), dan  "Doea Tanda Mata" (1985).  “Dan yang pasti beliau berpangkat tentara sebagai Letnan Kolonel. Tentara untuk memajukan musik tentara,” ungkap Fadli Zon.

Buku "Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia" beserta ribuan karya lagu yang pernah dihasilkannya menjadi warisan tak ternilai bagi sejarah musik di negeri ini. Selamat jalan Mas Idris Sardi. Semoga Allah menyediakan surga terindah untukmu. XPOSEINDONESIA/NS. Foto : Muhamad Ihsan dan Dudut Suhendra Putra

More Pictures 

 

 

 

Last modified on Wednesday, 30 April 2014 05:48
Login to post comments