Mhyajo : Kerja Kreatif 8 Babak untuk Pembukaan Meeting IMF-WB

09 October 2018

Mhyajo (lengkapnya Mia Johannes), sutradara seni pertunjukan muda Indonesia  bakal menyutradarai pementasan kolosal. Project ini dibuat untuk mengisi pembukaan konferensi internasional IMF-WB  (International Monetery Fund – World Bank), yang akan dilangsungkan 12 Oktober 2018 di Garuda Wisnu Kencana, Bali.

 

Pergelaran seni budaya Nusantara ini,  menurut Mhyajo diberi nama The Colors of Indonesia.  “Ini sebuah pagelaran kultural terbesar yang pernah diadakan. Sekaligus merupakan karya kolosal kultural Indonesia pertama yang diadakan di Garuda Wisnu Kencana, setelah patung raksasa karya Nyoman Nuarta diresmikan September lalu,” katanya  membuka percakapan.

Untuk pementas itu, Mhyajo telah merancang sebuah pagelaran 8 babak dalam durasi 40 menit. “Pergelaran ini melibatkan 1.586 pekerja seni, dengan 755 orang di antaranya diambil dari warga masyarakat Bona, di kawasan Gianyar, Bali!” katanya.  “dan Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan dimunculkan secara lengkap.  Ide  ini diterima oleh panitia penyelenggara!”

Proses kreatif  sendiri  telah dimulainya sejak Maret 2017. Berlanjut  dengan sesi workshop musik dasar yang dilakukan sejak April 2018.  “Proses selanjutnya, pengambilan gambar dan mengabadikan dalam bentuk video pendek, berisi pemandangan dan adat istiadat di Indonesia selama 27 hari pada bulan Mei 2018!” ungkap Mhyajo

Proses melatih gerak penari  sendiri semuanya dilakukan di Bali, dari pertengahan Juni 2018.  Terus terang, Mhyajo mengaku mengalami lelah fisik dan naik turun emosi, karena ini pekerjaan luar biasa rumit. Namun terbayar ketika mengingat kembali tujuan awal membuat konsep pagelaran ini. 

“Bahwa aku hanyalah mediator yang mengemban tujuan tulus, untuk para tunas bangsa, sehingga mendapat kesempatan yang sama layaknya pekerja seni profesional!”

Menurut perempuan berekacamata ini seusai pagelaran nanti, benih yang telah disebarnya itu  akan menjadi tunas dan membentuk tanaman indah. “Rancangan ini dibuat sebagai pondasi untuk ke depan, jadi  bukan untuk saat ini. Bayangkan bahwa Bali yang merupakan melting pot bagi dunia dan sewajarnyalah semua kultur dan budaya Indonesia harus dapat terepresentasikan dengan baik di pulau ini. “

Mhya mengharapkan para seniman itu kelak tetap dapat berkreasi dan menyebarkan pembelajaran mengenai pulau-pulau lainnya, dengan ciri khas budayanya,  di Indonesia setelah rangkaian latihan 5 setengah bulan. “Jadi sejatinya, pagelaran ini bukan hanya sekedar kemewahan di atas panggung, tapi sarat makna dan misi budaya”, jelas Mhya lagi.

Untuk mewujudkan ide dan gagasannya dalam karya pagelaran kultural tersebut, Mhyajo merangkul musisi Andi Rianto, sebagai direktur musik. Ia juga mengajak I Made Sidia, sebagai koreografer tari dengan dibantu 7 orang asisten penata tari. Seperti juga para penarinya, mereka datang dari Gianyar, Bali. Keseluruhan ditangani dan dilakukan orang-orang Indonesia, tidak melibatkan tenaga asing.

Sebagian besar latihan, dari tahap awal hingga proses latihan gabungan lengkap, seluruhnya diselenggarakan di desa Bona, Gianyar. “Karena sebagian besar penari yang terlibat adalah warga desa tersebut, baik bapak-bapak, ibu-ibu, remaja bahkan juga termasuk penari anak-anak!”

“Di panggung seluas 514 meter, aku tidak menjanjikan teknik spektakuler. Tetapi aku menjanjikan aura ketulusan yang terpancar dari 1.586 pekerja seni. Aku  memang berharap, ini  akan menjadi pagelaran yang memukau bagi 189 perwakilan negara yang akan menyaksikannya”, ucap Mhya, sang sutradara seni pertunjukkan lulusan Lincoln University ini

Selepas pagelaran ini, Mhyajo akan langsung berkonsentrasi pada karya keduanya di tahun ini. Sebuah pagelaran musikal adaptasi bebas, dari salah satu legenda tradisi Nusantara. Diberi judul Bunga untuk Mira, “Rencananya akan diadakan pada 22 dan 23 Desember di Jakarta.” ujarnya mengunci percakapan. XPOSEINDONESIA. Foto : Dok Mhyajo

More Pictures

Last modified on Wednesday, 10 October 2018 09:10
Login to post comments