“11 Tahun Kangen Chrisye” Ditebar di Bandung

25 September 2018

Buku “11 Tahun Kangen Chrisye” dirilis dua kali. Setelah dirilis di Jakarta dan dihadiri isteri Chrisye,  Yanti Noor pada 17 September, Ferry  Mursyidan Baldan sang penggagas sekaligus Produser Eksekutif, meluncurkan ulang buku produksi  Komunitas Kangen Chrisye (#K2C) ini,  di Saute Café, Bandung, 22 September 2018.

 

Di tengah acara, tamu undangan dihibur home band  dengan penyanyi yang hanya membawakan lagu-lagu Chrisye.  Tampak hadir rekan-rekan Ferry dari dari Rasela, alumni Unpad termasuk Joe P Project, juga Adjie Esa Putra, seniman Bandung yang di masa lalu menjadi guru vocal bagi almarhum Nike Ardila.

Saat memberi kata sambutan, Ferry memperkenalkan #K2C sebagai kelompok nirlaba, “yang tidak ikut pemilu, tidak terdaftar di Kemenkumham, tidak memerlukan NPWP,  Tapi kami punya semangat  yang sama untuk terus menghidupkan Chrisye, yang kebetulan menjadi penyanyi idola saya!” ungkapnya disambut tepuk tangan dan tawa para undangan

Ferry menyebut  ’11 Tahun Kangen Chrisye” menjadi buku ketiga yang diproduksinya bersama #K2C. Dua buku sebelumnya adalah “Chrisye di Mata Media, Sahabat dan Fans” (2012), dan “10 Tahun Setelah Chrisye Pergi” (2017). 

“Ini sebagai bukti, kita perlu menghargai prestasi sebuah profesi. Sekaligus sebagai bukti bentuk ketidakikhlasan kami sebagai fans jika nama besar Chrisye menghilang begitu saja,” ungkap Ferry  sambil memegang buku barunya.

Dalam pandangan Ferry, negeri ini harus bisa memposisikan  para seniman  bernama besar,  terlebih yang sudah tiada,  secara lebih serius.  “Sekarang ini, berapa banyak dari kita yang masih ingat,  kapan Broery Marantika, Utha Likumahuwa maupun Franky Sahilatua wafat?” katanya bertanya.

Buku ‘11 Tahun Kangen Chrisye’ menurut Ferry hanya akan dijual secara online seharga Rp 70.000,- Dan bersama dua buku terdahulu akan diupayakan menjadi bagian dari Museum Musik Internasional di Malang.

“Saat kita launching di Jakarta kemarin, Mas Bens Leo mengatakan ada ruangan special Chrisye di museum tersebut. Buku ini akan menjadi bagian dari memorabilia barnag pribadi Chrisye, yang sudah diserahkan Mbak Yanti,” kata Ferry.

Seniman Bandung, Adjie Esa Putra, dalam paparannya tentang Chrisye menyebut, sering bertemu Chrisye dalam berbagai kesempatan saat berkunjung ke Musica mengantar Nike Ardila maupun.

“Chrisye  tidak mau belajar vocal, karena itu kalau ikut kompetisi, diadu, dia bisa kalah. Kata Chrisye pada saya, ia hanya mau nyanyi dari hati. Dan terbukti nyanyi dari hati  bisa sampa Inka Christyi ke hati  para penggemarnya sehingga kasetnya laris sampai ratusan ribu kopi.”

Joe P Project dalam kesempatan ditodong untuk menyanyi berucap,  sangat mendukung kegiatan Ferry terhadap idolanya, Chrisye. “Siapa lagi yang bisa menghargai kita kalau bukan bangsa sendiri. Dan yang dilakukan Kang Ferry hari ini adalah suatu langkah luar biasa.  Semoga Kang Ferry sehat selalu dan bisa membuat acara macam ini setiap tahun. Kalau bisa bikin festival!”

Dalam pidato di awal acara,  Ferry  menyebut memang berupaya untuk selalu bisa menggelar acara mengenang Chrisye, baik di tanggal kepergiannnya (30 Maret), maupun hari kelahirannya (16 September).

“Untuk 30 Maret 2019,  kita sudah membuat beberapa rencana. Satu yang bisa saya sebut, kita berencana mengadakan Festival Paduan Suara SMA. Para peserta wajib membawakan lagu Chrisye. Namun, ketika kita melihat kalender, jadwal itu sulit dilakukan karena berdekatan dengan waktu Pemilu. Kita tunda festivalnya,  kita buat yang lebih simple saja!” XPOSEINDONESIA/NS Foto Muhamad Ihsan/Dudut Suhendra Putra/Indrawan Ibonk

More Pictures

Login to post comments