Indahnya Super Blue Blood Moon

01 February 2018

Fenomena Super Blue Blood Moon yang banyak disaksikan oleh masyarakat di tanah air menjadi sebuah cerita tersendiri. Fenomena alam yang pernah terjadi 152 tahun lalu, dan baru akan terjadi lagi pada 195 tahun mendatang ini, memang sebuah kejadian langka. Seperti yang terjadi di Jakarta pada khususnya, walaupun sempat terhalang oleh awan, namun secara keseluruhan fenomena alam ini masih sangat bisa dinikmati.

 

Beberapa spot yang ramai dikunjungi masyarakat dan para eclipse hunter di ibukota adalah Pantai Ancol, Planetarium TIM dan salah satunya lagi adalah Monas dan sekitarnya. Dari beberapa tempat diatas, ternyata pengunjung yang berada di spot di Monas adalah yang paling beruntung.

Euforia menyaksikan gerhana bulan total juga terjadi di gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bersama jajarannya dan sejumlah tokoh seni budaya seperti Ayu Laksmi serta media, melakukan nonton bareng menyaksikan fenomena super blue blood moon eclipse di atap gedung Sapta Pesona. Menpar juga sempat melakukan salat gerhana berjamaah.

Pada kesempatan tersebut, kepada media Arief mengungkapkan istilah baru yaitu destinasi waktu. Menurut dia, gerhana bulan total yang dilengkapi tiga fenomena sekaligus seperti ini bisa disebut sebagai destinasi waktu karena terjadi 152 tahun lalu dan baru akan terjadi 192 tahun lagi.

"Enggak akan bisa manusia umumnya ketemu lagi fenomena ini. Fenomena alam ini bisa terjadi kapan saja dan bisa kita jadikan sebagai destinasi waktu," tuturnya.

Super blue blood moon yang terjadi pada 31 Januari 2018 malam kemarin memang sangat istimewa. Terdapat tiga peristiwa yang terjadi dalam waktu bersamaan, yaitu fullmoon, supermoon, dan eclips.

Faktor lainnya yang mendukung adalah posisi bulan memang berada pada jarak terdekat dengan bumi (perigee), sehingga tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari biasanya. Purnama yang muncul kedua kalinya dalam satu bulan kalender dan sinar matahari menembus atmosfer Bumi sebelum sampai ke bulan.

Ditanya soal potensi gerhana bulan terhadap pergerakan wisatawan, menurut Arief, potensinya memang tidak sebesar seperti saat gerhana bulan total pada Maret 2016 silam. Pasalnya, saat itu gerhana matahari total hanya bisa dilihat di 10 titik wilayah Indonesia, dan negara lainnya juga tidak banyak yang mengalami. Menyadari potensi ini, Kemenpar bersama industri pariwisata pun gencar mempromosikan setahun sebelumnya.

"Artinya, gerhana matahari total waktu itu lebih ekslusif sehingga gaungnya lebih besar, sedangkan gerhana bulan total ini bisa dilihat hampir di semua wilayah Indonesia dan di negara lain juga. Sensasi menyaksikannya juga jauh lebih lebih tinggi saat gerhana matahari total karena fenomenanya dari terang terbitlah gelap. Kalau yang ini malam tidak terlalu terasa," tuturnya.

Menyoal destinasi waktu, dia mengharapkan dukungan lembaga terkait seperti Lapan untuk memberikan masukan dan informasi terkait kapan saja waktu akan terjadi fenomena langka seperti halnya supermoon. Sehingga, fenomena alam ini juga bisa di-create menjadi produk wisata dan menggerakkan wisatawan. XPOSEINDONESIA - AM – Foto: DSP

More Pictures

Login to post comments