Workshop Fotografi Forwapar : Penting Melakukan Riset Sebelum Menekan Shutter

07 October 2017

Dadang Rizki Ratman  Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata (PDIP) Kementerian Pariwisata (Kemenpar)  diam-diam punya keinginan mulia. Ia mau kualitas hasil  karya  foto jurnalistik di bidang pariwisata semakin hari semakin baik. “Karena sebuah karya foto yang bercerita tentang suatu destinasi tertentu, bisa menarik wisatawan untuk berkunjung,” ungkapnya di depan sekitar 30 fotografer dan jurnalis  dalam acara Workshop Fotografi yang digelar untuk Jurnalis Travel.

 

Acara yang digagas Forum Wartawan Pariwisata bekerja sama dengan Deputi PDIP Kemenpar  diselenggarakan di Historia Lounge & Bar, Kawasan Wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Kamis (5/10) dengan menghadirkan pembicara Sendy Aditya Saputra, Fotografer Senior Colours Garuda Inflight Magazine. Sandy mengakat makalah tentang "Visual Literasi dan Visual Storytelling".

Dalam paparannya, Sandy  memberi masukan agar fotografer mampu membuat karya foto lebih menarik, penuh cerita. Di samping itu tetap penting terus mengasah skill fotografi juga kepekaan ketika di lapangan. “Dan yang terpenting bikin kerangka persiapan sebelum menekan Shutter,” katanya
 
Banyak  hal sederhana, menarik  namun penting yang dipaparkan Sandy. Misalnya, Sandy mengajak peserta untuk  mementingkan pembuatan riset  foto sebelum terjun ke lapangan.
 
“Sebelum memotret, biasanya majalah kami melakukan riset tentang lokasi, budaya dan adat istiadat setempat. Riset semacam ini memakan waktu paling tidak sepanjang satu minggu!” katanya. Ia lantas mencontohkan pemotretan Majalah Garuda tentang Sarung  yang dikenakan Suku Tengger yang tinggal di kawasan sekitar pegunungan  Bromo.
 
“Ternyata, pemakaian sarung di sana banyak macamnya. Sarung yang digunakan mereka yang sudah berkeluarga  berbeda dengan anak gadis, berbeda pula dengan  yang sudah bercerai. Data tentang ini  bisa didapat hanya dari  riset, baru kemudian dibuatkan konsep foto seperti apa yang bisa menggambarkan  semua itu,” ujar Sandy.

Menurut Sandy, dengan melakukan pendekatan terlebih dulu pada objek foto di saat riset, akan lebih memudahkan berlangsungnya proses pemotretan. “Kerja sama dengan dinas Pariwisata setempat juga akan memudahkan proses  pemotretan. Mereka akan senang, jika pemotretan ditujukan untuk memperkenalkan  budaya di daerahnya. Terlebih ketika kita angkat budaya dan adat istiadat yang  jarang diekspose!”

Selain  menganjurkan pembuatan konsep sebelum memotret, Sandy juga membagi tips dan trick  saat memotret untuk kepentingan majalah. Biasanya, untuk kepentingan penataan letak,  satu objek tertentu akan memperlihatkan foto dalam beberapa halaman.

Agar tampilan menjadi menarik dan proporsional di tiap halaman, tinggi badan manusia yang dipotret ‘diarahkan’ wajib seimbang.  Caranya? “Cobalah ketika memotret, menempatkan kamera di dada,” katanya. “Dengan posisi begini tubuh orang yang kita potret  tidak akan terlihat jomplang,” tegas Sandy yang selalu berdiskusi lebih dahuku dengan bagian Artistik dan Editor  Foto sebelum terjun ke lapangan.

Acara yang sangat bermanfaat dan baru sekali digelar ini,  juga menantang peserta workshop untuk menghasilkan foto  terbaik pada hari itu juga. Karena di sesi akhir  acara, Sendy meminta peserta melakukan hunting  foto selama satu jam dengan tema tentang Kota Tua dan Museum Fatahilah.

Objeknya bebas, foto akan dilombakan  dengan cara mengupload karya di sosial media  dengan lebih dulu mem-follow akun Instagram @forwapar dan Akun medsos Deputi PDIP  yang terdiri dari Twitter : @ceritadestinasi Facebook : Cerita Destinasi IG : @ceritadestinasi Diharapkan juga foto mempergunakan taggar (#) #workshopfotografiforwapar #pesonaindonesia #wonderfulindonesia

Ketua Umum Forwapar,  Fatkhurrohim, mengatakan  lomba foto di tengah sesi workshop itu akan berhadiah voucher hotel. Namun yang terpenting dari acara ini, menurutnya adalah bisa mendorong lebih banyak tercipta karya foto yang memiliki ciri khas, “ Bahwa sebuah foto adalah hasil jepretan dari jurnalis travel," katanya.

Menurut Fatkhurrohim perlu ada standar dan keseragaman dalam hal teknik pengambila angle, komposisi, dan warna. “Semakin sering praktik, hunting foto, dan selalu "dekat" dengan kamera,  akan mudah menghasilkan karya foto yang menarik, unik, dan berbeda dengan karya orang lain!” XPOSEINDONESIA. Laporan dan Foto Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Saturday, 07 October 2017 03:06
Login to post comments