Anna Mariana Terus Melestarikan Budaya lewat Tenun & Songket

04 April 2017

Anna Mariana punya komitmet kuat untuk terus mencintai sekaligus dan menjaga  kelestarian tenun dan songket. Ini  dibuktikan dengan  mau hadir sebagai penceramah dan pemberi materi  di hadapan 30 semi finalis Abang dan None Jakarta Selatan 2017 yang sedang mengikuti seleksi. Satu pasang dari mereka  akan dipilih  untuk menjadi wakil Abang None Jakarta Selatan dan berlaga ke tingkat DKI pada akhir April ini.

“Program pembekalan ini diberikan agar peserta  memahami tentang budaya, salah satunya lewat tenun,” ujar Yohanes Reksa, finalis Abnon 2016,  yang kini duduk sebagai  Kadif Suponsorship dalam ajang Abang None 2017. 

Anna Mariana sendiri membuka sesi pembekalan dengan menyebut bahwa anak muda wajib mengetahui tenun dan songket. Terlebih dengan  banyaknya  produk luar negeri  bermerk Internasioal yang masuk ke Indonesia seperti sekarang. Karenanya kita wajib   mencintai  produk asli milik bangsa sendiri “Kalau bukan anak  muda yang mencintai karya asli milik bangsanya sendiri, siapa lagi yang bisa melestarikan tenun, terlebih jika para senior sudah tidak ada!’ ujar Anna di depan  semi finalis Anang None yang  serius mendengarkan uraiannya.

Menurut Anna, orang luar negeri  justru sangat  mengapresiasi tenun dan songket, karena prosesnya yang hand made.  Orang di luar negeri sudah meninggalkan proses pembuatan fashion dengan cara menenun dengan menggunakan benang  dan alat kayu  dan menggunakan otot untuk mengerjakannnya. “Karena itulah, orang asing melihat karya tenun dan songket sebagai karya yang sangat menakjubkan,” ungkap Anna yang baru-baru ini me launching tenun Betawi.

Anna dalam presentasinya kemudian menerangkan  dengan detail proses pengerjaan tenun. Mulai dari memilih benang.  Menurut Anna, selembar kain yang ditenun dengan menggunakan benang sutra, menghasilkan kualitas yang berbeda dengan tenun yang dibuat dari katun. “Proses menenun dengan menggunakan  sutra jauh lebih rumit dan juga lebih lama. Karena itu tenun dari sutera harganya pun jauh lebih mahal ketimbang tenun dari benang katun!”

Anna lebih lanjut  menjelaskan proses pewarnaan  pada benang  yang digunakan untuk hasil tenun dan songket karyanya diberlakukan dengan sangat memperhatikan lingkungan alam. “Kami berupaya menggunakan warna bukan dari bahan sintetis yang bias merusak alam sekitar. Kami menggunakan pewarnaan dengan memanfaatkan daun, buah , batang kayu, yang banyak tersebar di sekeliling kita. Jadi hasil kreasi kita aman juga untuk lingkungan!” ungkap Anna yang mengaku memiliki kain yang sudah berusia 125 tahun, dan tidak sekalipun ingin dijualnya. “Pernah juga ditawar dengan ditukar seharga mobil mewah! Tapi  saya tidak berkenan menukarnya,” ungkapnya mengunci percakapan. XPOSEINDONESIA/ Dudut Suhendra Putra

More Pictures

Last modified on Thursday, 06 April 2017 14:55
Login to post comments