Mas Bens Leo, Dipuji juga Dikritik Keras

09 December 2013

Akhir November lalu, Mas Bens Leo sebagai Kritikus Musik menerima Penghargaan Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan 2013. Sebuah penghargaan yang layak diterima oleh pria kelahiran Pasuruan 8 Agustus 1952 tersebut. 

Ini sesungguhnya, bukan penghargaan pertama yang diterima oleh Mas Bens. Sebelum ini, ia pernah menerima Piagam Penghargaan Jurnalis Musik dari Sri Sultan Hamengkubuwono X (2009), Trofi “Pengabdian Sebagai Jurnalis Musik dari Yayasan Buku Bangsa  (2003).

Dari sisi dedikasi pada dunia kerjanya, Mas Bens itu terhitung super lengkap.  Sepanjang 42 tahun bergelut di dunia hiburan, Ia telah menjadi wartawan untuk media cetak sekaligus radio, menjadi narasumber terpercaya untuk semua media,  menjadi  juri beragam lomba, menjadi produser untuk pembuatan album rekaman pendatang baru, menjadi koordinator dari bermacam Event  Organizer.

Di luar tugas itu, ia juga aktif di berbagai organisasi. Ia pernah terpilih sebagai Ketua Seksi Musik, Film dan Budaya di Persatuan Wartawan Indonesia (1984-1986), Anggota Badan Pengawas Yayasan Karya Cipta Indonesia (2010-Sekarang), Ketua II Koperasi Pekerja Seni Indonesia (KOPSI) (2012-Sekarang). Tahun 2010,  ia berinsiatif mendirikan Charity Club Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang  membantu wartawan dan artis yang tengah mengalami kesulitan  dan sakit.

Popularitas yang Merakyat

Dengan jenis pekerjaan yang sangat beragam, popularitas Mas Bens Leo  meroket. Dan tanpa bermaksud memuji berlebihan, popularitasnya yang sangat “merakyat” ini rasanya menjadi sulit ditandingi oleh wartawan senior dan juniornya.

Bukti untuk ini mudah dikenali, baik ketika ia tengah berada di lingkungan atas, mulai dari lingkungan Presiden SBY sampai ke lingkungan menteri-menterinya ataupun di lingkungan selebritis maupun lingkungan masyarakat biasa. Sekedar info juga,  “Mas Bens dipilih langsung oleh SBY untuk menuliskan bukunya yang bertajuk Tembang Untuk Bangsa, Bahasa Musik SBY (2011),”kata Renny Djajoesman, Ketua Tim Penyusunan buku tersebut.

Sekali waktu, ketika dalam proses penulisan buku tersebut, SBY mengundang Mas Bens  untuk berbuka puasa bersama di Istana Merdeka. Di tengah-tengah acara setengah resmi itu, Menkopolhukam Djoko Suyanto lebih dulu datang dan menyapa Mas Bens Leo, lengkap dengan panggilan Mas-nya. Mereka berbincang sangat akrab, bahkan sampai menggunakan bahasa Jawa, layaknya dua sahabat yang lama tak bertemu. “Padahal, saya baru sekali ini bertemu beliau,” kata Mas Bens seusai pertemuan itu.

Di lain hari, di sebuah tempat penangkaran Penyu, di Pulau Serangan di  Bali, sang penjual  tiket masuk kasak kusuk dengan temannya. Ia merasa mengenali  Mas Bens.  “Saya lupa namanya. Tapi saya tahu dia suka muncul di TV jadi pengamat. Kemarin dia muncul bersama Kevin Aprilio. Benar, kan?!  Kata si penjual tiket  pada saya.  Ketika saya sebutkan nama Mas Bens, si penjual tiket langsung berteriak. “Nah, betulkan, dia  yang suka muncul di TV!”  Usai itu, tanpa sungkan, ia minta foto bersama mas Bens.  

Permintaan foto semacam ini, langka ditemui untuk seorang yang berprofesi sebagai wartawan. Biasanya, kejadian begini hanya bisa terjadi pada sosok selebritis. Namun sejak lama Mas Bens, terbiasa menghadapi permintaan begitu. Bukan hanya di pelosok daerah, ketika berjalan di Mal di Jakarta pun, itu kerap terjadi. “Kadang capek juga lihat Papa dimintain foto sama banyak orang,” kata Addo Gustaf, anaknya semata wayang dari pernikahan Mas Bens dengan Dr. Pauline Endang Praptini, MS, SpGK.

Tokoh yang Didengar

Sebagai  Pengamat Musik Senior dan Juri dengan jam terbang supertinggi (dalam seminggu minimal dua kali menjadi Juri), Mas Bens  termasuk tokoh yang sangat didengar di dunia musik juga hiburan. Bukti untuk ini bisa didapat dari bergagai sumber. Satu di antaranya datang dari Band d’Masive.

Kelompok band ini  mengaku sering bertemu Mas Bens  sebagai juri dalam berbagai  Festival band yang mereka ikuti. “Dan ketika beberapa kali kami menang, Mas Bens lah yang pertama percaya dan mengusulkan untuk segera rekaman dengan lagu karya sendiri,” ungkap Ryan, sang vokalis. “Ide Mas Bens itu menguatkan semangat kami. Dan tidak bisa kami lupakan! Terima kasih Mas Bens, karena sudah percaya pada kami, bahkan sebelum kami menyadari, kalau kami  punya kemampuan dan bisa melangkah  sampai sejauh hari ini!” tambah Ryan lagi dalam sebuah acara, sesaat sebelum band ini manggung ke Irlandia, September 2013. 

Keberhasilannya Mas Bens sebagai wartawan yang dipercaya banyak kalangan, mudah pula mengundang kritik, baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Bukan sekali dua kali, beberapa rekan yang katanya juga berprofesi sebagai jurnalis menyindir Mas Bens dalam  posting twitter mereka. 

Sekali waktu, Mas Bens dinilai kurang tajam bertanya, ketika seorang gitaris manca negara bertandang ke Jakarta untuk pentas di Java Jazz Festival 2012. Pertanyaan yang dianggapnya terlalu standar dan sederhana itu dijadikan “senjata” untuk “menghajar” Mas Bens di twitter. 

Namun yang punya badan, malah hanya senyum senyum saja tanpa terganggu atau menjadi marah. Terbukti,  dalam pertemuan langsung dengan siapapun yang pernah mengkritiknya, Mas Bens malah yang lebih dulu menyapa dan menyalami mereka. Sikap macam ini  melekat kuat dalam pribadinya. Ia mudah bergaul dengan banyak kalangan, termasuk yang bersebrangan dengan dirinya. Ia juga mudah mengulurkan bantuan  bagi  yang memerlukan.   

Mas Bens mengaku sering mendengar kritik tentang dirinya, dan itu dianggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Kritik tajam yang paling baru adalah ketika ia membela Kevin Aprilio yang berseteru dengan penyanyi asuhannya sendiri.

“Saya sih berpegang pada isi kontrak,  jika ada orang mau tanda tangan kontrak satu album sebesar 2,5 M, ya harus tunduk pada kontrak yang ditandatangani. Jika si penyanyi  menghentikan kontraknya dan minta uang dibalikin, ngapain dibalikin. Kevin terlalu baik, dia dan sudah dibalikin 1 M,  padahal itu wanprestasi si penyanyi. Dia cuma cari sensasi, biar cepat populer via Kevin,” ungkap Mas Bens. “Banyak orang yang nggak tahu, saya ini Sarjana Hukum dengan Skripsi Masalah Hak Cipta Musik dan sangat paham dengan kontrak,” ujarnya.

Memasuki usia 61 tahun  di 2013, tidak membuat Mas Bens terlihat kendor semangat  dalam berkarya. Fisiknya masih kuat dan tetap gesit  untuk melakukan serangkaian aktivitas. Meski untuk  kepentingan kerja, ia harus terbang berpindah kota,  semua itu sama sekali tak membuat dirinya loyo karena kelelahan. “Bekerja di dunia hiburan dan menjadi jurnalis itu menyenangkan, dan tak ada kata pensiun di sini,” katanya menutup perbincangan. XPOSEINDONESIA-Nini Sunny Foto Dudut Suhendra Putra/Beck Tohir/Abror Rizki)

Bio Data :

Nama Lengkap                           : Bennedictus Benny Hadi Utomo, SH

Nama Pop                                 : Bens Leo

Tempat Tanggal lahir                  : 8 Agustus 1952

Karier Jurnalistik

1.       Wartawan  Musik Berita Yudha , Sport & Film (1971)

2.       Wartawan Majalah Aktuil  (1972-1986)

3.       Redaktur Musik Majalah Gadis (1987 –1999)

4.       Penyiar Radio Amigos

5.       Pemimpin Redaksi Majalah Anita

6.       Pemimpin Redaksi Majalah NewsMusik (2000-2003)

7.       Penyiar iRadio Jakarta (2002-2013)

8.       Penanggung Jawab XposeIndonesia.com (2013- sekarang)

Karya Buku :

1. Artis Nominee BASF Award (2003)

2. Tembang Untuk Bangsa, Bahasa Musik SBY (2011)

3. 45 Tahun Label Rekaman Aquarius (Masih dalam proses)

 

More Pictures

 

 

Last modified on Monday, 09 December 2013 11:39
Login to post comments