Grup Tari Gema Citra Nusantara Memenangkan Grand Prix “Lucille Amstrong Trophy” Pada 70th Llangollen International Musical Eisteddfod

23 July 2016

Nama Indonesia kembali diperhitungkan dalam Kompetisi Seni Dunia. Hampir bersamaan dengan hari kemenangan Umat Islam diseluruh dunia, awal Juli ini akhirnya Indonesia, yang diwakili oleh sanggar tari Gema Citra Nusantara dibawah pimpinan Mira Arismunandar sebagai Penata Artistik dan Pelatih Utama, dapat memenangkan Grand Prix Lucille Amstrong Trophy pada acara “70th Llangollen International Musical Eisteddfod” di Wales, sebuah penghargaan tertinggi kategori Tari yang selama 70 tahun penyelenggaraannya lebih banyak dimenangkan oleh oleh negara-negara Eropa.

Tentang Llangollen International Eisteddfod

Llangollen adalah nama kota di Wales Utara, Inggris, populer di seantero dunia setelah membidani lahirnya sebuah ‘festival seni budaya’ yang spektakuler, dalam bentuk kompetisi Paduan Suara, Penyanyi Solo, Kompetisi Tari, Ensamble dan Street Parade / Carnaval bernama Llangolen International Eisteddfod atau juga disebut Llangollen International Musical Eisteddfod. Kemegahan ditunjukkan dengan banyaknya peserta negara yang ambil bagian dalam sesi kompetisi maupun karnaval di jalanan yang meriah, lengkap dengan keunikan negara peserta. Llangollen International Musical Eisteddfod juga menjadi ‘festival seni budaya’ paling melegenda karena tahun 2016 ini, memasuki tahun ke 70 penyelenggaraannya, telah melahirkan superbintang penyanyi Luciano Pavarotti, yang kemudian namanya dipakai sebagai nama Trophy Grand Prix untuk Kategori Musik dan juga melahirkan Lucille Amstrong salah satu superbintang penari Folklore dari Portugis yang sangat terkenal sehingga namanya dipakai sebagai nama Trophy Grand Prix untuk kategori Tari.

Awal mulanya acara ini dibentuk setelah Perang Dunia II sebagai ajang promosi perdamaian dunia melalui suatu kegiatan seni dan budaya. Peserta pertama berjumlah 14 negara di tahun 1947 dan tahun ini diikuti oleh lebih dari 50 grup dari 30 negara. Acara ini telah berlangsung pada tanggal 5-10 Juli 2016 bertempat di Royal International Pavillion, Abbey Road , Llangollen, Wales Utara, Inggris.

Kegiatan Karnaval merupakan acara yang sangat dinantikan oleh masyarakat Inggris dan wisatawan, yang mana mereka berbondong-bondong menuju Wales untuk menyaksikan acara rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Wales ini. Indonesia, tentu saja turut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan menampilkan kemegahan kostum bertemakan “Indonesia Extravaganza”. Kostum yang merupakan pengembangan dari Ondel-ondel Betawi ini dikolaborasikan dengan pengaruh budaya Cina sehingga menjadikannya sangat memukau membuat banyak masyarakat Inggris dan para wisatawan bahkan ikut menari bersama.

Masing-masing kategori lomba di Llangollen International Musical Eisteddfod 2016 memperebutkan Juara 1, Juara 2 dan Juara 3, serta penghargaan tertinggi Grand Prix berhadiah trophy Luciano Pavarotti untuk musik dan trophy Grand Prix Lucille Armstrong buat tari.

Prestasi yang dicapai GCN .

Hasil yang dicapai di tahun ini merupakan prestasi gemilang untuk Indonesia dimana di tahun ke 70 Indonesia bisa meraih Grand Prix . Indonesia, yang diwakili oleh sanggar tari Gema Citra Nusantara, bahkan juga memenangkan kompetisi lainnya seperti : Juara 1 untuk Kategori “Traditional Folk Dance”, Juara 2 untuk Kategori “Open Floor Dance”, Juara 2 untuk Kategori “Choreographed/Stylized Dance, Juara 3 untuk kategori “Cultural Showcase. Kesemuanya bisa dilihat di http://international-eisteddfod.co.uk/category/results

Ahmet Luleci, salah seorang koreografer ternama sekaligus sebagai salah satu Dewan Juri dari Turki mengatakan, ”pertunjukan Indonesia sangat luar biasa, kuat, dan para penari bisa menarikannya dengan handal sehingga sulit ditemukan kesalahan-kesalahan. Kesemua itu bisa berhasil tentu saja bersumber dari bagaimana “Guru/Pelatih” bisa memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya”.

Sementara itu, Mira Arismunandar sebagai pelatih dan penata gerak mengatakan, “Tim GCN yang terdiri dari 15 orang penari ini harus bisa memainkan peran, tidak hanya sebagai penari tetapi juga sebagai pemusik karena mereka juga memainkan talempong, dol, akordion dan kecrek/tamborin”. Mira menambahkan, “tantangan untuk mengikuti lomba tahun ini lebih berat tetapi lebih maksimal. Alhamdulillaah.... apa yang kami upayakan sejak awal tahun memperoleh hasil yang memuaskan.. Jerih payah penari pun terbayarkan.. Sekarang bagaimana kita bisa mempertahankannya.. Itu adalah tantangan kami selanjutnya, untuk tetap terus melakukan yang terbaik dan jangan merasa cepat puas dan menyerah”.

Kesuksesan Tim tentunya merupakan hasil kerjasama yang baik dari Tim Artistik yaitu Mira Arismunandar sebagai Penata Artistik /koreografer, Andini Karissa sebagai Asisten Koreografer, Jufrizal dan Asep Supriyatna selaku Komposer dan Pemusik. Mira melanjutkan, “kesuksesan ini tidak terlepas dari para pendukung yang selalu memberikan perhatian dan doanya pada kami diantaranya Pembina,Penasihat dan Pengurus Sanggar Gema Citra Nusantara, Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia , KIS FM sebagai Media Partner, Galeri Indonesia Kaya yang memfasilitasi acara Gelar Pamit, Kiny Tour , para donatur dan orang tua penari yang telah mengupayakan putera puterinya untuk menjadi Duta Bangsa”. /XPOSEINDONESIA - Mira Arismunandar Foto : DOC GCN

More Pictures

Last modified on Sunday, 24 July 2016 01:46
Login to post comments