Film ‘Silet’ Raih Piala Maya 2015 Kategori Film Daerah Terpilih

23 December 2015

Film produksi PT. Foromoko Matoa Indah Film berjudul ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ meraih penghargaan Piala Maya 2015 untuk Kategori Film Daerah Terpilih. Film karya sutradara Henry W. Muabuay itu mengangkat kisah nyata dokter John (27 tahun)  lelaki kelahiran Jayapura, yang menantang maut melakukan operasi sesar dengan silet di belantara Digoel Papua pada sekitar tahun 1990-an.   

John berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di desa Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Sosoknya pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan mengutamakan kepentingan orang banyak, serta penuh kesabaran. Sosoknya disukai banyak orang.

Polemik muncul, ketika dokter John dihadapkan sebuah kenyataan, dimana ia bersama staf harus melakukan operasi cesar terhadap Ibu Agustina (35 tahun), yang telah melahirkan 9 kali. Tragisnya, Puskesmas Tanah Merah tidak punya sarana memadai. Ditambah lagi, keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan.

“Pemain utama film ini adalah dokter John Manangsang, si pelaku sejarahnya,’ ungkap Produser Pelaksana FX Purnomo.   Dibantu para suster dari puskesmas Boven Digoel. Beberapa suster yang dulu terlibat dalam operasi pun ikut dilibatkan bermain. Jadi film ini digarap apa adanya, sama dengan peristiwa tahun 90-an dahulu. Dan film ini diisi 100 persen oleh putra-putra Papua, “ kata bangga.

FX Purnomo yang akrab dipanggil Ipong  ini menyebut kendala saat proses produksi shooting-nya  terletak pada kondisi alam Papua, yang dijangkau. “Team Produksi kami melakukan perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam. Lokasi shooting  menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian tahun 90-an, yaitu puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet.”

Sementara itu, dr John Manangsang sebagai pelaku sejarah, menyebut, tetap ada manfaat film ini diproduksi, meskipun kisah nyatanya terjadi  25 tahun lalu. Terlebih, fakta menunjukan dibanding 25 tahun lalu, angka kematian ibu dan bayi di Papua di hari ini justru semakin tinggi dan menduduki rangking nomer satu di Indonesia.

“Padahal, kalau lihat jaman dulu, tenaga dokter spesial ibu dan anak belum banyak di Papua. di satu propinsi hanya ada satu-dua dokter,” ungkap  John Manangsang. “Sekarang di tiap kabupten ada satu hingga empat dokter. Rumah sakit juga tumbuh ada dimana-mana,“ terangnya lagi.

Kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film ini menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua, yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya. “Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pasien, tapi juga hidup mati sang dokter karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai, jadi melakukan operasi sesar dengan silet, “ ungkapnya mengenang.

“Film ini menunjukkan bagaimana dokter Papua berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu yang melahirkan,“ tegasnya. XPOSEINDONESIA/NS Foto: Istimewa

More Pictures

Last modified on Wednesday, 23 December 2015 10:59
Login to post comments