"Eksplorasi Musik" pada Festival Folksong antar Bank Daerah

29 August 2017

Bank BJB di Bandung menjadi tuan rumah Festival Folksong antar Bank Pembangunan Daerah ( BPD ) se Indonesia. Pada technical meeting di Dago Tea House, Bandung, Jumat ( 25/8 ) disepakati istilah ‘festival’ yang menjadi ciri kebersamaan dan kegembiraan di pentas seni akan lebih tepat dibanding sebutan ‘kompetisi / lomba’. Dewan Juri juga mengusulkan, peserta diberi ruang untuk melakukan eksplorasi pada basic budayanya, “Karena peserta festival folksong datang dari 10 provinsi di Indonesia, yang bisa dipastikann akan tampil ke panggung dengan membawa budaya lokal, lewat aransemen lagu dan konstumnya. Idenya datang dari kenyataan bahwa, tak ada satu negara pun di dunia yang memiliki kekayaan musik etnik dan budaya seperti di Indonesia. Jika eksplorasi dilakukan dengan baik,maka di festival folksong antar Bank Pembangunan Daerah ini bisa menjanjikan lahirnya tatanan world music, yang kini sedang menjadi trend di perkembangan festival musik dunia,“ kata Bens Leo, salah satu anggota juri.

Aat Suratin, juga dewan juri, menjelaskan istilah ‘world music’ tadi, satu diantaranya adalah, membuat eksplorasi musikk memadukan musik etnik satu daerah / negara dengan ‘musik modern’, misalnmya mempertemukan gamelan atau perkusi Timur lainnya dengan musik diatonik Barat. Bens Leo mencontohkan apa yang dilakukan Vicky Sianipar yang mengeksplor musik Batak, Djaduk Ferianto bermain untuk Qua Etnika, Dwiki Dharmawan dengan Krakatau, atau lagu kontemporernya Rizaldi Siagian, juga almarhum Ben Pasaribu, dan Sapto Rahardjo.......yang disebut terakhir itu malah pernah membuat Festival Gamelan di Yogyakarta.

“Setelah saya mendiskusikannya dengan Panitia, maka disepkati diluar disiapkannnya trophy dan medali untuk pemenang pertama, kedua dan ketiga, Festival Folksong antar Bank Pembangunan Daerah se Indonesia yamg digelar Bank BJB Bandung ini menyiapkan trophy khusus Penampil Terbaik,” lanjut Aat Suratin, tang juga dikenal sebagai budayawan Jawa Barat. Keputusan dadakan lewat technical meeting ini disambut hangat oleh peserta, artinya semua kontingen BPD akan memiliki peluang baru merebut trophy bergengsi, Penampil Terbaik.

Festival Folksong antar Bank Pembangunan Daerah se Indonedsia ini merupakan bagian dari event tahunan Porseni yang tahun 2017 adalah Porseni XII.

Gengsi Budaya Lokal

Folksong yang dimaksud Panitia adalah sejenis dengann ‘vokal grup’  peserta harus membawakan Lagu Wajib ( ditentukan Panitia dan dapat dipilih peserta ) dan Lagu Pilihan ( bebas dipilih peserta ), juga lagu daerah. Namun peserta dibebaskan membuat aransemen sendiri, sesuai dengan konten musik etnik daerahnya. Peserta juga dibebaskan menentukan kostum, tak kalah menarik adalah, dibolehkannya memakai instrumen akustik yang disambungkan dengan ‘listrik’, juga disiapkan set drum. Konsekuensi dari kebebasan berekspresi macam ini adalah, munculnya ‘konsep nge-band’, tapi juga bisa memakai instrumen yang lazim dipakai oleh kelompok musik akustik, misalnya memainkan kahon ( sebagai ganti bunyi drum ), jimbe, kendang, dan alat perkusi lain, termasuk alat musik tradisional suling, alat musik petik sape – sejenis gitar dari Dayak, ukulele, biola, hawaiian ( peserta Maluku), perkusi dari logam ( sejenis gamelan di Jawa ), juga kostum / busana daerah yang sudah dimodifikasi.

Ragam Aransemen dan Kekuatan ‘Vokal Grup’

Festival Folksong antar BPD se Indonesia ini diikuti oleh Bank Jawa Tengah, Bank BPD DIY ( Yogya ), Bank Kalimantan Tengah , Kalimantan Barat, Sumatera Selatan ( Sumsel Babel ), Riau Keppri, Bank Banten, Bank Maluku ( Malut ),  Bank Sumatera Utara ( Sulutgo ) dan Bank BJB sebagai tuan rumah.

Ketua Dewan Juri Yana Julio memuji keberagaman dan keberanian peserta membuat eksplorasi melalui aransemen musik dan vokal, juga koreografi, termasuk pembuatan dam pemakaian kostum panggung yang bagus, tak kalah dengan kelompok vokal profesional. Yana juga memuji keberanian pelatihnya membuat eksplorasi pecahan vokal, dengan tingkat kesulitan yang tinggi, terutrama dalam menerjemahkan lagu daerah.

Lagu ‘Manuk Dadali’ adalah Lagu Wajib yang banyak dipilih oleh peserta ( Bank Kalteng, Bank Jateng, Maluku Malut, Bank Sulutgo, Riau Keppri, BPD DIY ), tapi aransemen dan durasinya selalu beda. Selebihnya, Bank Kalbar memilih lagu ‘Bangbung Ranggaek’, Bang Banten dan Bank SumselBabel memilih lagu ‘Batminton;, dan BJB memilih lagu ‘Lalajo Wayang’ sebagai Lagu Wajib.

“Event festival folksong antar bank ini bikin saya tergetar untuk menyanmyi di sini. Banyak penyanyi bagus di dunia perbankan, pasti banyak nasabah bank yang gak menyangka jika mereka dilayani oleh penyanyi berkualitas,” tambah Yana Julio dari Elfa’s Singers ini.

Dewan Juri mengusulkan, Festival Folksong antar Bank Pembangunan Daerah ini tahun dapat digelar dengan menambah satu trophy lagi, yakni Komposisi Lagu Terbaik. “Logikanya, jika membuat aransemen lagu saja bisa sedahsyat ini, bisa dipastikan mereka basa menulis atau mencipta lagu sendiri. Dengan demikian, suatu saat nanti akan ada karya lagu baru yang lahir dari sebuah lomba atau festival seni yang digelar oleh insan perbankan, “ ujar Bens Leo yang disambut tepuk tangan oleh penonton yang memadati venue indoor di Dago Tea House, Bandung.
Festival Folksong antar Bank Pembangunan Daerah dalam rangka Porseni XII ini berakhir pada Sabtu ( 26/8 ) jam 15.40 WIB, melahirkan juara :

Bank Jateng ( Juara I ), Bank BJB ( Juara II ), Bank Sumsel Babel ( Juara III ) dan Bank Kalimantan Tengah memenangi Penampil Terbaik. XPOSE INDONESIA / Bens Leo, foto : Muhamad Ihsan & Bens Leo

More Pictures

Last modified on Tuesday, 29 August 2017 09:02
More in this category: « 60 tahun Candra Darusman
Login to post comments