Semar Kembar Production : “Kembali ke Musik Sendiri”

12 May 2016

Basic penguasaan musik awalnya pop rock, tapi tatkala memutuskan indie, “Kembali ke Musik Sendiri” jadi tagline-nya. Itulah yang dilakukan J Sarwono, SH  tatkala bersama label ‘Semar Kembar Production’ memproduksi album keroncong, keroncong-dangdut, campursari, album anak-anak, juga album poprock religi Islami.

Semar Kembar Production

Semar adalah punakawan Pandawa yang berdarah Dewa, menjadi tokoh panutan warga segala macam status sosial di dunia pewayangan, “Keunggulan Semardan namanya yang kami ambil sebagai wadah tempat kami berkreasi di dunia musik. Nama Semar Kembar menjadi representasi dari niat saya dan kawanan musisi  serta adik-adik saya ini untuk kembali menggauli musik Indonesia, musik negeri sendiri, “ ujar J Sarwono, pencipta lagu, penata musik, keyboardist dan owner Semar Kembar Production ( SK Pro ). Sarwono pernah sangat ‘besar namanya’ tatkala melahirkan superhit ‘Hilangnya Seorang Gadis’ lewat album rekaman Freedom of Rhapsodia dari Bandung. Band pop rock yang kondang di tahun 1970-an ini, memiliki pemain  antaralain Deddy Dores ( gitar ),  Soleh ( lead vocal ) serta keyboardistnya J Sarwono.

Freedom of Rhapsodia lebih dari 3 dasa warsa vakum, tapi kerinduan pemainnya untuk berkarya, bahkan manggung tetap membara. Sejauh ini cuma Deddy Dores yang memiliki produktivitas tinggi di rekaman, “Tapi, sejak tahun 2013 Papa benar-benar pengen balik ke musik, tak hanya sebagai musisi atau pencipta lagu, tapi juga membangun kerajaan bisnis musik di rekaman dengan tagline, Kembali ke Musik Sendiri, “ penjelasan Bobby ‘Bossa’ Sarwono, putera J Sarwono yang kini diminta Ayahnya untuk menjadi Direktur Produksi  SK Pro

Pada 16 Agustus 2013 dibangun Studio Rekaman dan tempat latihan, Intan Studio, terletak di kawasan Cilandak Barat. Studio digital ini menjadi testcase awal Sarwono memproduksi album rekaman. Uji coba dilakukan untuk album isterinya, penyanyi keroncong Tuti Maryati. Basic pop rock yang dimiliki Sarwono semasa di Freedom of Rhapsodia menjadikannya ‘gagap’ menghadapi area musik keroncong yang penuh kesyahduan, banyak cengkok, juga lirik yang terkesan ‘teduh, santun, lembut’, sekalipun tema patriotik apalagi dalam lirik keroncong tema’putus cinta’. Tapi Sarwono yang menyelesaikan ‘SH’-nya di Univ Lambung Makurat, dan S2 Notariat di Univ Gajah Mada ini tidak pernah patah semangat. 

“Pada awalnya ada beda pendapat dalam memahami pakem keroncong antara saya dan Mbak Tuti yang murni datag dari dunia keroncong. Itu yang bikin album Elegi Sang Bidadari kami garap panjang, dua tahun. “ ujar Sarwono. Kompromi itu datang juga, saat Intan Studio mendapat dukungan sound engineer Heru Purnomo alias Ipung, panata rekam yang tahu persis taste bermusik Sarwono, dan gaul dengan musik tradisional yang eksploratif, seperti Campursari, Keroncong Rock, Congdut dan sejenisnya.

Produktivitas Dimulai dari Keroncong......

Bobby Sarwono mengontak Ipung agar ‘turun gunung’ ke Jakarta, membantu Ayahnya yang punya masalah dengan teknologi audio dan rekaman lagu ‘keroncong yang tak sesuai pakem’. Setidaknya, Ipung menjadi penyelamat produksi perdana SK Pro, yakni album Elegi Sang Bidadari dari Tuti Maryati. Single ‘Elegi Sang Bidadari’ ciptaan Harry Yamba. Kecuali memperbaiki ‘sound recording’ yang belum benar, Ipung juga menjadi mediator pemahaman ‘sedikit beda’  tentang musik keroncong antara Sarwono dan isterinya, Tuti Maryati.

Penjelasan yang lebih mudah, diberikan pengamat musik Bens Leo, lagu keroncong ciptaan dan aransemen Sarwono yang kadang menyeberang ke musik klasik dan pop pada intro,  tetap akan ketemu akar keroncongnya pada tengah lagu, karena masih dijumpai warna akustik gitar, violin suling bahkan permainan ukulele yang khas. Menurut Bens, musik Campursari eksplorasinya lebih ekstrem, gamelan bisa dicampur dengan gitar listrik, bunyi keyboards bahkan brass section atawa musik tiup, jika dibanding sedikit eksplorasi aranswemen keroncong versi Sarwono.. Musik Campursari malah bisa melintasi benua, sampai Singapura, Malaysia, Brunai, Jepang, Belanda dan Suriname, tempat warga keturunan Jawa bermukim. Siapa tahu album Elegi Sang Bidadari bisa melompat ke area yang sama?

Maka, pada akhirnya terjadilah simbiose mutualisme antara karya Sarwono dan pemikiran Keroncong Tuti Maryati. Album Elegi Sang Bidadari dirilis akhir tahun 2015, dengan distributor GNP. Tuti Maryati Dzakaria lahir di Makassar, 8 Oktober 1956 ini Adalah Juara Bintang Radio TV 1986 Kategori Keroncong dan pernah memrilis album Javanase Keroncong and Degung Sundanese melalui GNP Records, juga membuat rekaman Keroncong Emas Tuti Tri Sedya ( 1992 ), dan pernah  membuat rekaman lagu pop pada tahun 2008. Tuti Maryati menjadi penyanyi ‘langganan menghibur tamu negara di Istana’ – sejak 1988 dan menjadi Duta Seni Indonesia di banyak negara sahabat, tampil sebagai penyanyi keroncong yang menguasai lagu-lagu berbahasa asing, kadang menari dan menjadi MC. Tuti Maryati menyelesaikan kuliahnya di ASMI Jakarta, dan Fakultas Hukum Univ Veteran. 

Album Religi dan ( Upaya) Tembus AMI Awards

Didukung team kreatif dan segala genre musik, SK Pro lebih khusus lagi, Sarwono kian kreatif dan produktif. Ipung memutuskan tidak pulang ke Jawa Tengah, menjaga studio rekaman, menjadi sound engineer merangkap bekerja untuk mixing mastering rekaman.  Beberapa album produksi SK Pro yang sudah edar dan siap edar Mei hingga Agustus nanti antaralain album Ratna Listy dengan bintang tamu Deddy Dores, album religi Islami Ryo Domara, album duet Campursari Bagus dan Sindy dan 2 album legenda musik Indonesia, Mus Mulyadi, menyusul kemudian album pop anak-anak.

Ratna Sulistyaningsih alias Ratna Listy (  Madiun 2 Agustus 1973 ). Lulusan FE Univ Brawijaya ini juara Bintang Radio TV di Jawa Timur ( 1989 ), juga beberapa kali mendapat tugas sebagaui Duta untuk produk Jamu, Mainan Anak dan memiliki prestasi perolehan Trophy AMI Awards kategori Musik Berbahasa Daerah. Beberapa rekamannya antaralain Obsesi ( 1998 ), album religi Adzan ( 2002 ), Hitam Putih ( 2006 ), Keroncong Asli ( 2013 ), Tergila Gila ( 2014 ) dan album yang dirilis SK Pro April 2016, Congdutkeroncong dangdut - Tresno Jaman SMP – pada lagu ini Ratna Listy duet dengan Deddy Dores. Video klip duetnya dengan Deddy Dores digarap istimewa, romantisnya terasa. Videoklip lagu ‘Tresno Jaman SMP’ itu sudah dinaikkan di YouTube lebih sebulan lalu, dan sudah bisa diunduh di iTunes. Untuk album Congdut Ratna Listy, kecuali J Sarwono turun tangan sebagai penata musik, Tuti Maryati ikut berperan memandu vokal, menguatkan karakter vokal Ratna Listy pada musik yang cenderung ‘bercitra daerah’. 

Ryo Domara ( Jakarta, 6 April 1979 ), 4  kali menjadi ‘Vokalis Terbaik’ Kompetisi Musik Rock  dari tahun 1999 hingga 2006. Menjadi tamu penyanyi Rockestra Erwin Gutawa membawakan lagu ‘Hilangnya Seorang Gadis’ karya J Sarwono dari sinilah Ryo diantar memasuki rekaman lagu-lagu karya Pamungkas NM ( hits maker awal karir Anggun Sasmi ) dengan aransemen J Sarwono. Tujuh lagu ciptaan Pamungkas itu awalnya pop rock dengan lirik universal, oleh Sarwono diarahkan ke lagu religi Islami, dengan sedikit perubahan lirik yang  tetap dibuat Pamungkas, ditambah 2 lagu religi ciptaan J Sarwono.  Video klip ‘Mohon Ampunan’ ( ciptaan Pamungkas ) telah naik di YouTube, dan masuk jaringan edar digital iTunes. Ryo juga pernah rekaman bareng Iwan Fals – kompilasi album 50 – 50, dan tour 17 kota bersama gitaris Tohpati.

Bagus Dewantoro ( Lampung, 2 Mei 1986 ), pernah jadi juara Talenta TVRI, Bintang Radio-TV Medan, Juara Lomba Nyanyi Keroncong TVRI dan Juara Nyanyi Campursari se Jabodetabek.  Bagus berduet dengan Sindy Purbawati ( Banyuwangi, 22 Agustus 1990 ), juara 1 Talenta Jawa TVRI Nasional, Juara Favorite Parade Lagu TMII, juara 2 Lomba Lagu Perjuangan, Juara 1 Rock for Nation se Jawa Bali dan The Best Vocalist Kompetisi Band Kemenpora. Duet Bagus – Sindy ini unik, karena genre Campursari, berbahasa Jawa, berjudul E...Jamune karya Anjar Any.  Dalam Campursari ini didapati ‘Caping Gunung’ ( Gesang ), ‘Melati Rironce’  ( Nartosabdo ). 

Mus Mulyadi ( 14 Agustus 1945 ) legenda musik keroncong, pernah menjadi vokalis The Favorites”s Group yang didirikan dari tahun 1971. Dengan band pimpinan A Riyanto inilah, Mus Mulyadi menemukan karakter vokalnya yang ‘bening’, juga tatkala membawakan lagu-lagu pop Jawa, seperti hit dari solo albumnya, ‘Rek Ayo Rek’ ( karya Is Haryanto ) . Kekuatan Mus Mulyadi pada musik keroncong terletak pada cengkok yang khas, dengan ornamen vokal Jawa. Pada label SK Pro, kakak gitaris Mus Mudjiono ini  merilis album Pop Jawa Crito Jaman Sekolah ( lagu ciptaan Obbie Mesakh ) dan album Keroncong Mawar Biru,

“Pada AMI Awards 2016 ini, kami menyertakan 5 produksi rekaman SK Pro, yakni album Ratna Listy, Mus Mulyadi, album religi Ryo Domara, album keroncong Tuti Maryati dan duet Campursari Bagus – Sindy, semoga bisa diapresiasi Anggota Anugerah Musik Indonesia, “ kata Bobby menutup percakapan./ XPOSEINDONESIA  - Bens Leo Foto : Muhamad Ihsan.

More Pictures 

 

 

Last modified on Friday, 13 May 2016 08:19
Login to post comments